Mengapa Banyak Orang I’tikaf di Akhir Ramadan? Ini Penjelasan Ustaz

Umat muslim sedang i’tikaf/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Bulan Ramadan merupakan bulan istimewa yang memiliki keutamaan besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Karena itu, banyak umat Muslim memperbanyak berbagai amalan, baik yang bersifat wajib maupun sunnah.

Salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan, adalah i’tikaf, yakni berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lantas, mengapa i’tikaf menjadi ibadah yang begitu penting?

Founder Santri Motivator School sekaligus mahasiswa Program Doktoral Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Ustaz Asroni Al Paroya, mengatakan bahwa ketika berbicara tentang i’tikaf, sesungguhnya kita tidak hanya membahas seseorang yang bermalam di masjid. Lebih dari itu, i’tikaf merupakan momentum rekonstruksi spiritual manusia.

Dalam perspektif Islam, manusia kerap terjebak dalam rutinitas dunia seperti pekerjaan, ekonomi, teknologi, hingga kompetisi sosial. Akibatnya, hati manusia sering dipenuhi kebisingan dunia sehingga kehilangan ruang untuk berdialog dengan Tuhannya. Di sinilah Islam menghadirkan konsep i’tikaf.

Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur’an:

> وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian ketika kalian sedang beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

“Ayat ini menegaskan bahwa i’tikaf adalah ibadah yang memiliki legitimasi langsung dari Al-Qur’an. Artinya, Islam secara sadar memberikan ruang bagi manusia untuk menarik dirinya dari hiruk-pikuk dunia dan kembali kepada pusat spiritualitasnya,” kata Ustaz Asroni kepada GPriority, Senin (9/3).

Dia menambahkan, jika melihat praktik Nabi Muhammad SAW, i’tikaf bahkan menjadi salah satu ibadah yang sangat beliau jaga. 

Dalam hadits shahih disebutkan:

> كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

“Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan, lanjut dia, bahwa i’tikaf bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi puncak dari perjalanan spiritual Ramadhan.

“Secara intelektual, kita bisa memahami i’tikaf sebagai proses detoksifikasi spiritual. Jika tubuh manusia membutuhkan detoks dari racun makanan, maka jiwa manusia juga membutuhkan detoks dari racun kesibukan dunia,” jelas Ustaz Asroni.

Lebih lanjut, Ustaz Asroni menjelaskan bahwa i’tikaf menciptakan ruang untuk tiga hal penting.

Pertama, kontemplasi spiritual. Manusia kembali merenungkan dirinya, hubungannya dengan Allah, serta tujuan hidupnya. 

Kedua, rekoneksi dengan wahyu. Dalam i’tikaf seseorang memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa.

Ketiga, pengendalian hawa nafsu. Sebab dalam i’tikaf manusia belajar membatasi interaksi duniawi dan memperkuat dimensi ruhani.

Selain itu, kata dia, i’tikaf juga berkaitan erat dengan pencarian malam Lailatul Qadar. 

Nabi SAW bersabda:

> تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut dapat melampaui nilai ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun.

Karena itu, i’tikaf sejatinya merupakan strategi spiritual dalam Islam untuk memaksimalkan kualitas ibadah manusia dalam waktu yang sangat terbatas.

Jika dilihat dari perspektif peradaban, i’tikaf juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting yakni peradaban yang kuat selalu lahir dari manusia yang memiliki kedalaman spiritual.

Sejarah menunjukkan bahwa generasi sahabat Nabi adalah generasi yang kuat, bukan hanya secara sosial dan politik, tetapi juga secara spiritual. Mereka adalah generasi yang terbiasa bermunajat di malam hari, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Karena itu saya sering mengatakan bahwa i’tikaf bukan sekadar ibadah individual. Ia adalah proses pembentukan karakter manusia bertakwa, manusia yang memiliki hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan moralitas yang kuat,” pungkas Ustaz Asroni.

Pada akhirnya, tujuan dari semua itu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah:

> لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dengan demikian, ucap dia, i’tikaf merupakan puncak latihan spiritual Ramadan. Harapannya, ketika seseorang keluar dari bulan suci ini, ia tidak hanya menjadi manusia yang telah berpuasa, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih tenang jiwanya, dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.