Tangerang, GPriority.co.id – Ajang Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2025 tak pernah selesai menghadirkan beragam produk unggulan khas daerah, Kabupaten Poso salah satunya. Dari ratusan booth yang ada di AOE 2025, perhatian pengunjung tertuju pada kerajinan khas Kabupaten Poso yakni Kain Kulit Kayu, Ranta.
Kain kulit Ranta dilirik karena memiliki keunikan tersendiri. Hal ini dilihat dari proses pembuatannya yang murni hasil dari alam.
Dalam ajang ini, Poso turut menampilkan bagaimana proses Kain kulit yang telah ada sejak 2500 sebelum masehi itu disulap menjadi beragam kerajinan seperti tas, dompet, hingga baju daerah.
Sebelum menjadi kain, kulit kayu dipilih terlebih dahulu dari tiga jenis pohon yang sering dijumapi. Pengerajin kain Ranta, Ruli Labulu menyebut pohon tersebut antara lain, beringin, malo (sebutan masyarakat Sulteng, red) dan bea atau saeh.
“Ada tiga macam yang masih sangat mudah dijumpai ya, beringin, kemudian pohon malo, kita sebut daerahnya namanya malo, saya nggak tahu nama intinya apa, kemudian bea, pohon bea. Bea itu bisa dibudidayakan,” kata Ruli saat ditemui GPriority di ICE BSD City, Tangerang, Banteng, Jumat (29/8).
Proses Pembuatan Kain Ranta
Ruli mengatakan, setalah diambil, kulit kayu dipotong secukupnya. Kemudian kulit kayu diserut, dikeluarkan kulit-kulit arinya, setelah itu dikupas, dan direbus, selama kurang lebih 4 jam.
“Setelah itu difermentasi, bungkus dengan daun pisang, lalu difermentasi sekitar 3-4 hari,” kata dia.
Setelah proses fermentasi dan menjadi lembaran-lembaran kecil, kain Ranta ditepuk-tepuk menggunakan peboba. “Nah setelah itu digabung-gabungkan lagi, disatukan, makin lama, makin lembut kainnya, setelah itu baru dilanjutkan dengan batu,” ujarnya.
Pada proses tepuk menggunakan batu, Ruli menuturkan dibagi kedalam beberapa tahap, batu dengan rongga yang lebih lebar terlebih dahulu . Disusul, batu dengan rongga yang lebih kecil untuk memunculkan motif sesuai yang diinginkan.
“Kita bolak-balik lagi (kain ranta), tapi makin lama makin kecil (batu), sampai akhirnya di yang di sini, yang di batu ini (batu kecil), ini kalau ini sama sih ya, yang ini sama yang ini sama, karena ini semua finishing,” ungkapnya.
Usai melewati proses itu, kain Ranta bentuk sesuai dengan keinginan seperti baju, tas hingga topi. Adapun Ruli menyebut pewarnaan kain Ranta juga menggunakan bahan alami seperti getah kulit kayu, daun-daunan bahkan umbi-umbian.
Ruli mengungkapkan keseluruhan proses kerajinan kain Ranta memerlukan waktu kurang lebih 4-6 hari tergantung panjang kain tersebut.
“Ini kan biasanya kita juga buat tergantung dari request ya, permintaan, jadi kalau permintaannya misalnya hanya kecil, hanya misalnya 1×2 meter, 1×1, 1×2 meter, setelah di fermentasi 4 hari tadi itu, bisa kurang lebih, kalau kita continue sih mungkin bisa 1 hari, tapi biasanya tidak selesai,” ucapnya.
Kelompok Mandiri Pengerajin Kain Ranta
Untuk melestarikan kain khas tersebut, Ruli membentuk kelompok mandiri yang terdiri dari ibu-ibu muda di desanya. Ia mengungkapkan inisiatif sebagai regenerasi dari para orang tua agar Kain Ranta tetap lestari.
“Ya, ini kerajinan ini sekarang itu lebih banyak dikerjakan oleh orang-orang tua yang sudah umurnya 80 tahun, 90 tahun. Masih ada, guru kita gitu ya, yang mengajari kita itu sudah 90 tahun umurnya. Masih aktif, masih membuat kain kulit kayu,”
“Nah, dari sana saya mencoba untuk membentuk kelompok-kelompok tadi itu dengan melibatkan ibu-ibu muda,” kata dia.
Ruli menuturkan, ada beberapa kelompok mandiri binaanya yang telah dibentuk. Ada kelompok perempuan Ranta Manofa, kemudian ia juga tergabung dalam kelompok Watu Melindo dan Ruli sebagai Ketua tersebut.
“Anggota kita sekarang 15, tapi tidak semuanya pengrajin kulit kayu. Yang lain, marketing, yang lain di bidang-bidang lain,” ungkap Ruli.
Ia menyebut, kelompok-kelompok tersebut dibina dan diarahkan untuk dapat menghasilkan produk Kain Ranta yang berkualitas.
Gaet Investor di Apkasi Otonomi Expo 2025
Ruli mengatakan, ajang Apkasi Otonomi Expo menjadi momen penting untuk mengenalkan kain kulit kayu Ranta kepada masyarakat luas. Ia berharap kain kulit bisa membawa Kabupaten Poso dilirik investor untuk mensejahterakan ekonomi masyarakat.
Lebih lanjut, Ruli juga mendorong agar kain kulit Ranta dapat terus berinovasi. Dimana, selama ini ia mengaku masih terbatas untuk mengembangkan kain Ranta bersaing dengan produk daerah lainnya.
“Tentu saja kami juga ingin berharap, ada inovasi-inovasi yang lebih baik dari hasil kain kulit kayu ini, dari yang ada sekarang kan masih sangat terbatas, kita coba sih untuk bikin tas, untuk bikin rompi, mudah-mudahan nanti bisa lebih berkembang,” kata Ruli.
Sebagaimana diketahui, AOE 2025 digelar di ICE BSD City, Tangerang, Banten pada 28-30 Agustus 2025. Ajang ini menghadirkan beragam produk unggulan dari sejumlah kabupaten di Indonesia.
