Morowali Raih Piala Adipura untuk Pertama Kalinya Setelah 24 Tahun

Jakarta, GPriority.co.id – Kabupaten Morowali berhasil meraih Piala Adipura untuk pertama kalinya setelah 24 tahun. Hal ini disampaikan langsung oleh Pj. Bupati Morowali, Ir. H. Rachmansyah, pada Selasa (5/3), di Jakarta.

“Piala ini merupakan piala pertama setelah 24 tahun,” ungkap Rachmansyah.

Rachmansyah mengatakan, salah satu isu lingkungan yang menjadi kendala di Morowali adalah terkait penanganan masalah industri.

“Isu lingkungan pertama khususnya mengenai penanganan masalah industri. Karena kita punya PSN (Proyek Strategi Nasional) itu ada empat. Di kawasan industri IMIP, Hengjaya, PT ATI, dan PT IHIP. Ini terkait kawasan hutan dan persampahannya yang menjadi isu utama yang akan kita tangani,” tuturnya.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh Pemkab Morowali terkait isu lingkungan, yaitu fokus dari hulu ke hilir. “Saya baru mulai sekitar 6 bulan terkait tata kota. Salah satu programnya yaitu penanganan sampah dengan adanya pembuangan sampah yang semakin banyak. Setelah itu berpindah ke kawasan seperti PSN. Karena kawasan ini agak semerawut. Oleh karena itu, kita mulai dari hulu ke hilir. Terutama kita utamakan bagian hilir,” tambahnya.

Terkait isu sampah plastik di Kabupaten Morowali, Rachmansyah mengaku akan membuat kebijakan melalui Pergub, kemudian beralih ke Perda.

“Saya akan membuat Pergub secepatnya, sebelum Perda. Seperti salah satunya terkait bank sampah. Misalnya saja sampah plastik,” tutur Rachmansyah.

Untuk kedepannya, Rachmansyah berharap dapat menata Morowali. Salah satunya, ia ingin kembali mendapatkan Piala Adipura Kencana di tahun-tahun berikutnya.

“Insha Allah kedepannya saya akan menata Morowali sampai tiga kali mendapatkan Adipura, untuk mendapatkan Adipura Kencana,” ucapnya.

Target kedepan, Pemkab Morowali akan fokus menata Kabupaten Morowali secara menyeluruh.

“Pertama kita bersihkan dalam kota. Karena itu hilirnya. Setelah itu kita tata hulunya semua. Hulunya itu yang di daerah-daerah kawasan industri. Itu yang kita tata. Seperti masalah banjirnya, pengelolaan kawasannya. Sementara hilirnya itu soal penanganannya. Seperti sampah-sampah yang semerawut misalnya,” tegas Rachmansyah.

Foto : Dimas A Putra