Negara G7 Bela Israel, Sebut Iran Jadi Pemicu Konflik Dunia

Negara G7 Bela Israel, Sebut Iran Jadi Pemicu Konflik Dunia Negara G7 Bela Israel, Sebut Iran Jadi Pemicu Konflik Dunia

Jakarta, GPriority.co.id – Perang Iran-Israel akan semakin seru, setelah kini pemimpin negara G7 menyatakan dukungan terhadap Israel. Mereka juga mengklaim jika Iran menjadi pemicu konflik dunia.

Negara G7 sendiri terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, hingga Jepang. Mereka sepakat memberi dukungan penuh terhadap Israel dalam konflik bersama Iran yang kini semakin panas.

Para pemimpin negara G7 juga menegaskan, Israel mempunyai hak untuk membela diri seraya mengatakan, Iran tak boleh punya sejata nuklir dalam kondisi apapun.

“Kami menegaskan, bahwa Israel mempunyai hak untuk membela diri. Kami ulangi, dukungan kami terhadap keamanan Israel,” ujar pemimpin negara G7 seperti dikutip dari pernyataan bersama mereka.

Para pemimpin negara G7 turut mendorong deskalasi di wilayah Timur Tengah. Mereka juga menyerukan gencatan senjata di Gaza, Palestina dan menyebut jika seruan tersebut masih menjadi fokus utama mereka.

Dalam agenda KTT G7 yang berlangsung pada 16-17 Juni kemarin, Presiden AS Donald Trump nampak absen pada hari kedua, dikarenakan kondisi krisis yang memburuk di Timur Tengah.

Absennya Trump mendapat kritik dari sekutu negara G7. Mereka menilai jika Trump tidak tegas terhadap Rusia. Mereka juga menolak adanya sanksi tambahan atas invansi ke Ukraina.

Sementara, pemerintah China menyatakan jika mereka siap menjadi penengah dan menyatakan dukungan untuk perdamaian Israel dan Iran.

Langkah ini diambil China karena berambisi memperluas pengaruh mereka di Timur Tengah, serta menantang dominasi diplomatik pada negara-negara Barat.

Sebagai informasi tambahan, jika negara G7 diisi oleh Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, negara G8 diisi oleh Rusia. Sementara negara G20 diisi oleh Argentina, Australia, Brasil, China, Uni Eropa, India, Indonesia, Mexico, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Turki.

Foto : Dok. Reuters