Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Dilaporkan Kritis, Begini Kondisi Terkininya

Mojtaba Khamenei/Foto : Dok. X @IsraelMFA Mojtaba Khamenei/Foto : Dok. X @IsraelMFA

Iran, GPriority.co.id – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri. Berita ini memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas kepemimpinan negara tersebut di tengah konflik yang terus memanas dengan Amerika Serikat dan Israel.

Laporan ini pertama kali mencuat dari sejumlah media internasional yang mengutip memo diplomatik berbasis intelijen AS dan Israel. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa Mojtaba Khamenei saat ini sedang menjalani perawatan intensif di kota suci Qom dan tidak mampu menjalankan tugas kenegaraan.

Menurut laporan NDTV yang dikutip pada Rabu (8/4), kondisi Khamenei disebut sangat serius. Dalam isi memo tersebut dinyatakan, “Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi parah dan tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim.”

Informasi ini juga diperkuat oleh laporan media lain seperti The Times, yang menyebut bahwa Khamenei kemungkinan besar berada dalam keadaan tidak sadar. Bahkan, sejumlah sumber menyebutkan bahwa ia berada dalam kondisi koma setelah mengalami luka serius akibat serangan udara sebelumnya.

Ketiadaan Khamenei dari ruang publik sejak beberapa waktu terakhir semakin memperkuat spekulasi mengenai kondisi kesehatannya. Sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, ia hampir tidak pernah tampil secara langsung di hadapan publik.

Sebagaimana diketahui, Ali Khamenei tewas dalam serangan udara pada 28 Februari 2026 yang merupakan bagian dari operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut juga dilaporkan melukai Mojtaba Khamenei, yang kemudian ditunjuk sebagai penerus dalam situasi krisis nasional.

Sejak saat itu, berbagai laporan mengenai kondisi kesehatannya terus simpang siur. Pemerintah Iran sendiri berulang kali membantah kabar bahwa pemimpinnya dalam kondisi kritis. Pejabat resmi menyatakan bahwa Khamenei masih mampu menjalankan tugasnya, meskipun tidak tampil di depan publik karena alasan keamanan dan situasi perang.

Namun, laporan terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Disebutkan bahwa tidak adanya rekaman video atau suara asli dari Khamenei, serta munculnya dugaan penggunaan konten berbasis kecerdasan buatan (AI), semakin menimbulkan keraguan terhadap klaim resmi pemerintah.

Seorang sumber intelijen yang dikutip media internasional bahkan menyebut bahwa situasi ini berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan di Iran. Dalam kondisi di mana pemimpin tertinggi tidak dapat mengambil keputusan, peran strategis kemungkinan besar diambil alih oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Situasi ini dinilai sangat krusial mengingat Iran tengah berada dalam konflik terbuka dengan Israel dan Amerika Serikat. Ketidakjelasan kepemimpinan dapat berdampak langsung terhadap strategi militer, kebijakan luar negeri, hingga stabilitas domestik negara tersebut.

Selain itu, laporan juga mengungkap bahwa persiapan pembangunan makam besar di Qom tengah dilakukan, yang memicu spekulasi lebih lanjut mengenai kondisi Mojtaba Khamenei. 

Kendati demikian, hingga kini belum ada konfirmasi independen yang dapat memastikan kondisi sebenarnya dari Mojtaba Khamenei. Perbedaan informasi antara sumber intelijen dan pernyataan resmi pemerintah Iran membuat situasi semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.

Para analis menilai bahwa jika benar Khamenei berada dalam kondisi koma atau tidak sadarkan diri, maka Iran berpotensi menghadapi krisis kepemimpinan serius di tengah perang yang sedang berlangsung. Hal ini juga dapat memicu dinamika politik internal yang tidak stabil, termasuk perebutan pengaruh di antara elite kekuasaan.