Pertama Kalinya Galnas Gelar Pameran Daring Manifesto VII

Jakarta,Gpriority-Guna memutus mata rantai Covid-19 yang pada saat ini masih melanda Indonesia, Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggelar pameran daring (online) untuk pertama kalinya.


Pameran bertajuk MANIFESTO VII “PANDEMI” dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D. melalui aplikasi Zoom pada 8 Agustus 2020 pukul 16.00 WIB. Turut bergabung dalam siaran Zoom adalah para peserta pameran, tamu undangan, kurator, serta para pegiat seni rupa Tanah Air. Acara pembukaan juga disaksikan secara langsung oleh publik melalui live Facebook Galeri Nasional Indonesia dan situs galnasonline.id.


Pameran Daring MANIFESTO VII “PANDEMI” merupakan gelaran ketujuh dari pameran dua tahunan milik GNI. Pameran ini diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia di tahun 2008, untuk menyambut peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Tujuan dari MANIFESTO sendiri adalah untuk memetakan perkembangan seni rupa di Indonesia, yang kemudian diwujudkan sebagai manifesto atau pernyataan sikap dalam ekspresi seni rupa.


Terkait dengan tema, team kurator yang terdiri dari Rizki A. Zaelani, Citra Smara Dewi, Sudjud Dartanto, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono sepakat mengangkat “Pandemi”, alasannya karena dirasa relevan dengan tujuan memotret perkembangan praktik seni rupa melalui keseharian publik yang memang tengah mengalami banyak perubahan akibat pandemi Covid-19.


Konsep penyajian dan medium karya pun diubah. Jika sebelumnya MANIFESTO khusus mengundang perupa rekomendasi kurator, kini dibuka untuk publik luas. Medium video pun dipilih karena paling representatif untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, pernyataan, dan harapan peserta pameran untuk disajikan dalam bentuk daring. “ Hasil dari undangan terbuka mampu menjaring 333 karya dari 267 peserta, yang kemudian dikurasi hingga jumlah karya video yang berhasil lolos seleksi sebanyak 217 karya dari 204 peserta,” ucap Rizki dalam siaran persnya yang dikirim pada 8 Agustus 2020.


Rizki dalam siaran persnya juga mengatakan, setelah dikurasi, jenis karya beraneka ragam yang sudah terpilih kemudian dibagi ke dalam dua tipe peserta pameran, tipe pertama seniman dan kedua, non seniman. Para seniman menghadirkan karya kompleks yang sarat dengan metafor untuk hubungan antara pandemi dengan struktur nilai diluar kemampuan nalar manusia. Sementara peserta non seniman, berasal dari latar belakang yang berbeda-beda mulai dari dokter, mahasiswa, guru, pegawai, hingga ibu rumah tangga, yang menonjolkan dua jenis respons terhadap kondisi pandemi. “ Pertama, menunjukkan perjuangan mereka beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi, dan kedua, menghadirkan pandemi sebagai sebuah laporan situasi yang menggugah,” ucap Rizky saat menjelaskan karya dari non seniman.


Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto menyambut baik digelarnya Manifesto VII secara daring. Menurut Pustanto MANIFESTO VII “PANDEMI” yang dilakukan secara daring merupakan langkah berani GNI untuk berinovasi dan merespons perubahan situasi. Dengan kerja kreatif dan upaya terbaik, harapannya Pameran Daring MANIFESTO VII “PANDEMI”bisa diterima oleh publik dan menjadi referensi untuk pameran daring yang bisa terus dikembangkan agar lebih baik di masa depan. (Haris.Foto.dok.GNI)

Related posts