Aceh, GPiority.co.id – Banjir bandang dan longsor yang menerjang 18 Kabupaten/Kota di Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang telah memporak porandakan semuanya, mulai pemukiman penduduk, fasilitas umum, perkantoran, hingga sektor pertanian dan perkebunan masyarakat.
Di antaranya ialah sektor pertanian. Petani cabai di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Abdul Razzaq (37), mengaku telah mengalami kerugian karena gagal panen akibat bencana banjir. Total kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
Razzaq menuturkan, kurang lebih lahan seluas 10 rantai atau sekitar 4.000 meter persegi tanaman cabai yang sudah memasuki usia 25 hari tanam tersebut kini mati semuanya akibat terendam banjir bercampur lumpur.
“Lenyap semua diterjang banjir, tidak ada sebatang pun tersisa,” kata Razzaq kepada GPriority, Jumat (2/1).
Warga Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru itu mengaku kerugian yang dialami sangat besar. Terlebih, kata dia, ada tiga orang yang saat ini menjadi tanggungjawab-nya karena telah bekerja membantu merawat tanaman cabai-nya.
“Kalau cerita rugi, cukup berat saya rasa. Terlebih ada 3 orang petani yang merawat, mereka semua kehilangan harapan,” ujar Razzaq.
“Dan kondisi ini tentunya menyebabkan kerugian cukup besar bagi petani yang tergabung di Kelompok Tani Tunas Muda,” tambahnya.
Total tanaman cabai yang sudah ditanam di atas lahan 10 rantai, Razzaq mengungkap, kurang lebih sebanyak 7.000 batang. Dan semuanya sudah hilang terbawa banjir. Hanya menyisakan lumpur setinggi satu meter lebih di atas lahan tersebut.
Tak hanya tanaman, Razzaq mengaku banjir juga telah menghabiskan peralatan pertanian miliknya dan juga semua persediaan pupuk untuk tanamannya.
“Pupuk, insektisida, fungisida, sprayer elektrik, hingga mesin air, semuanya hanyut terbawa derasnya arus banjir kemarin. Totalnya mungkin hampir Rp. 30 juta lebih modal yang sudah dikeluarkan. Dan kemana saya harus mengadu,” tutur Razzaq.
Untuk itu, Razzaq berharap ada perhatian dari pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat agar para petani yang kehilangan tanaman dan gagal panen tersebut. Pasalnya, tidak sedikit modal yang telah dikeluarkan. Mulai olah lahan, tanam, hingga ongkos pekerja. Dan rata-rata kondisinya para petani hari ini sangat terpuruk.
“Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah untuk petani yang kehilangan mata pencaharian pasca banjir. Terlebih sebentar lagi memasuki bulan suci ramadhan,” tuturnya.
