Ramai Dihujat, Padahal Ini Makna di Balik Mahar Rp1 Juta dan Tafsir An-Nisa Kadam Sidik

Meski dihujat, mahar Rp1 juta dan mengajar tafsir an-nisa Kadam Sidik untuk Ning Najma Tsuroyya memiliki makna yang mendalam/Foto : Dok. Instagram @basyasman Meski dihujat, mahar Rp1 juta dan mengajar tafsir an-nisa Kadam Sidik untuk Ning Najma Tsuroyya memiliki makna yang mendalam/Foto : Dok. Instagram @basyasman

Jakarta, GPriority.co.id – Kabar mengenai pendakwah muda dan konten kreator Kadam Sidik (Husain Basyaiban) yang disebut memberikan mahar senilai Rp1 juta kepada istrinya, yang ramai dikenal dengan panggilan Ning Najma, menjadi perhatian publik.

Mahar tersebut disebut tidak hanya berupa uang, tetapi juga disertai janji Kadam Sidik untuk mengajarkan Tafsir Surah An-Nisa kepada sang istri.

Informasi itu dilansir dari unggahan Instagram @barengsiroh yang membahas makna di balik mahar tersebut. Dalam unggahan itu disebutkan, nominal Rp1 juta sempat memicu komentar warganet yang mempertanyakan besarnya mahar.

“Mahar senilai Rp1 juta. Ditambah janji mengajarkan Tafsir An-Nisa. Timeline langsung ramai. ‘Sekelas dia, cuma segitu?’ Seolah nilai seorang perempuan bisa diukur dari berapa nol di belakang angka,” tulis postingan tersebut.

Unggahan tersebut kemudian mengajak publik melihat mahar bukan sebagai ukuran harga perempuan, melainkan pemberian dalam pernikahan.

1. Tafsir An-Nisa dan hak perempuan

Menurut @barengsiroh, pilihan mengajarkan Tafsir An-Nisa memiliki makna karena surah tersebut membahas sejumlah ketentuan mengenai perempuan, keluarga, harta, dan mahar.

Surah An-Nisa ayat 4 secara jelas memerintahkan pemberian mahar kepada perempuan yang dinikahi. NU Online menjelaskan bahwa mahar merupakan pemberian yang diberikan kepada perempuan dan menjadi haknya.

“Jadi maharnya bukan sekadar ‘ilmu’, ia berjanji mengajari istrinya justru bab yang paling menjaga hak-hak sang istri. Sebuah mahar yang alih-alih memberi harga pada perempuan, malah memberinya kuasa atas haknya sendiri.”

2. Mahar tidak harus bernilai besar

Dalam unggahan tersebut juga disampaikan bahwa mahar tidak harus berupa sesuatu yang mahal. Hadis sahih meriwayatkan Rasulullah SAW meminta seorang sahabat mencari mahar, bahkan jika hanya cincin dari besi. Ketika sahabat tersebut tidak memiliki harta, Rasulullah SAW kemudian menikahkannya dengan mahar berupa pengajaran Al-Qur’an yang telah diketahuinya.

Karena itu, @barengsiroh menilai nominal mahar yang sederhana tidak otomatis menunjukkan seseorang merendahkan perempuan.

“Padahal mahar itu uang yang terukur dan ilmu yang tak ternilai. Sederhana di angka, tapi kaya di makna. Sebab mahar memang tak pernah dimaksudkan sebagai harga seorang perempuan. Ia simbol ketulusan seorang lelaki.”

3. Perdebatan nominal vs makna

Unggahan tersebut juga membandingkan price atau harga dengan value atau nilai. Ilmu, waktu, perhatian, dan kesetiaan dinilai tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam angka.

“Kita ribut soal angka, dan lupa menakar maknanya.”

Dalam konteks itu, mahar Rp1 juta ditambah komitmen mengajarkan Tafsir An-Nisa dipandang @barengsiroh sebagai simbol pemberian sekaligus pembelajaran yang berkaitan dengan hak istri.

Kisah tersebut pun kembali mengingatkan bahwa dalam hukum Islam, yang terpenting bukan semata-mata tingginya nominal mahar, tetapi pemberian yang disepakati dan ditunaikan dengan baik.