JE|JAK|KARTA merupakan pameran seni yang dibuat Perupa Jakarta Raya (Peruja) bekerjasama dengan Galeri Nasional Indonesia (GNI).
Pameran yang diikuti 39 Peruja ternama termasuk Andi Suandi digelar oleh GNI secara online di di laman galnasonline.id.
Menurut Kurator Citra Smara Dewi saat memberikan sambutan secara online melalui aplikasi zoom pada saat pembukaan pameran yang digelar Rabu sore (28/10/2020),Pameran ini digelar secara daring (online) guna menghindari klaster baru Covid-19.” Seperti yang sama-sama kita ketahui hingga saat ini Covid-19 masih melanda Indonesia.Untuk menghindari penambahan kasus positif Covid-19 dari klaster seni, maka GNI dan perupa sepakat menggelarnya secara online,” jelas Smara Dewi.
Pameran ini menurut Citra Smara Dewi juga mengukuhkan eksistensi para perupa Jakarta (Peruja). “Eksistensi Peruja sangat penting dalam konteks membaca ulang perkembangan seni rupa Jakarta, karena acap kali kita terpaku pada berbagai perhelatan besar peristiwa seni rupa sebagai arus besar dengan mengusung seni berbasis ‘conceptual art’.Bahkan ironisnya, tak jarang Kota Jakarta hanya berperan sebagai etalase /display seni rupa. Memang tak ada yang salah dari realitas dan fenomena tersebut, namun akan lebih komprehensif jika memandang perkembangan seni rupa dengan memperhitungkan “kekuatan lokal” para perupa Jakarta. Meskipun sebaliknya, perlu pula dibangun kesadaran bagi komunitas PERUJA untuk terus berkarya, kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap gerak perubahan sosial, budaya, dan teknologi,” ucap Citra.
Heru Hikayat yang juga mengkuratori acara ini menambahkan, Jakarta menjelma jadi simbol yang gagah, agung, dan dalam banyak hal, militeristik. Jakarta sebagai ibu kota negara, seringkali ditautkan dengan narasi-narasi besar tentang bangsa. Inilah kota tempat proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Di sinilah Monumen Nasional ditegakkan. Di kota ini pula, “Kesaktian Pancasila” dibuktikan. Semuanya seolah adalah simbol. Namun di sisi lain, Jakarta sesungguhnya bisa dibayangkan sebagai rumah. “Ruang yang menampung ingatan masa muda, atau justru masa tua, harapan, kekecewaan, atau kenangan tentang cinta pertama. Kiranya, perupa yang sehari-hari berkiprah di Jakarta, punya sangat banyak variasi pemaknaan bagi ruang bernama Jakarta ini,” ungkap Heru.
Berangkat dari pertimbangan tersebut, para Perupa Jakarta Raya menurut Heru sepakat untuk berkarya dengan memaknai kembali berbagai peristiwa yang terjadi di Jakarta, tentu saja melalui kaca mata kultural. Dan hasilnya di pamerkan secara online melalui JE|JAK|KARTA.

” Pameran ini seperti upaya menelusuri “jejak-jejak” sejarah (rupa) yang pernah terjadi di kota Jakarta. Bagi PERUJA, mungkin hal ini bisa diumpamakan seperti menengok kembali rumah sendiri. Menelisik bagian-bagiannya, detil yang dikenali dengan sangat baik, atau sebaliknya detil yang cenderung terabaikan,” ucap Heru.
Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto yang membuka acara ini secara online berharap JE|JAK|KARTA ini mampu melengkapi narasi tentang Jakarta sebagai kota yang penuh dinamika dan kompleksitas. “Menariknya, kali ini Jakarta dipresentasikan melalui memori personal para anggota PERUJA, sehingga dimungkinkan ada temuan-temuan atau kisah-kisah menarik yang tidak diketahui secara luas,” kata Pustanto.
Pustanto menambahkan,“Sejarah memang terus hidup dari peristiwa yang terus dikisahkan. Dan pameran ini berupaya untuk terus menghidupkan jejak-jejak Kota Jakarta dalam kaca mata para perupa Jakarta.Semoga pameran ini dapat membuat kita dapat lebih mengenal kota Jakarta, tidak hanya dari predikatnya sebagai ibu kota dan kota metropolitan, namun juga dari segi-segi kehidupan yang telah mengisi Jakarta. Semoga pameran ini juga dapat memberikan semangat bagi para perupa khususnya perupa Jakarta, untuk terus berkarya, berinovasi, dan menemukan narasi-narasi baru yang menarik. Para perupa di kota-kota lain juga diharapkan dapat terinspirasi untuk menelisik lebih jauh tentang sejarah kotanya sendiri, maupun tentang peristiwa penting dan kehidupan masyarakatnya.”(Hs.Foto.dok.GNI/Munadi)
