Superflu: Virus Baru di Indonesia, Lebih Parah dari COVID-19?

Superflu mulai masuk di Indonesia/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Superflu mulai masuk di Indonesia/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Superflu atau varian influenza A (H3N2) suclade K telah ditemukan di Indonesia sejak 25 Desember lalu. Virus baru ini memicu kekhawatiran publik karena penyebarannya yang cepat.

Menurut laporan ANTARA yang dikutip pada Jumat (2/1), lonjakan kasus superflu telah terjadi di sejumlah negara. Namun data global (termasuk WHO) menyebut, tidak ada peningkatan signifikan pada angka rawat inap, perawatan intensif, ataupun kasus kematian.

Golongan anak-anak tercatat sebagai kelompok yang paling banyak terpapar karena tingginya aktivitas sosial. Sementara itu, vaksin influenza masih cukup efektif dalam menurunkan risiko keparahan super flu.

“Masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ itu karena penularannya cepat. Jadi satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya. Diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” ungkap anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA (K).

Lebih lanjut, para ahli menekankan bahwa kewaspaadan tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta penderita penyakit penyerta (komorbid). Pasalnya, influenza secara umum lebih berisiko pada untuk kelompok tersebut.

Meski gejala superflu bisa terasa lebih berat jika dibandingkan dengan flu biasa atau COVID-19, namun super flu memiliki langkah pencegahan yang sama seperti vaksinasi influenza, menjaga kebersihan, memakai masker saat sakit atau di keramaian, serta menjaga daya tahan tubuh.

“Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah seperti demam tinggi 39-41 derajat celsius, nyeri otot berat, kelelahan atau lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala dan tenggorokan berat. Sedangkan flu biasa dan COVID yang saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” jelas Dokter Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K).

Saat ini, pemerintah dan tenaga medis mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Dilansir dari laman Kemenkes RI, superflu masih termasuk virus influenza musima dan bukan varian baru dengan kemampuan luar biasa. Selain itu, belum ada bukti kuat bahwa subclade K lebih mematikan dibanding influenza biasa. Sehingga, belum dapat dipastikan jika superflu berpotensi akan menjadi pandemi seperti COVID-19.