Jakarta, GPriority.co.id – Setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei wafat pada Sabtu (28/2) lalu akibat serangan AS-Israel, kini publik dihebohkan dengan dugaan bocornya surat wasiat Ali Khamenei.
Dalam surat wasiat tersebut disebutkan jika Ali Khamenei tidak menyetujui putranya, Mojtaba Khamenei, memimpin Republik Islam Iran. Laporan New York Post ini disebut mengutip sebuah kelompok pengasingan Iran, dan muncul usai Mojtaba dipilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai Pemimpin Tertinggi baru negara tersebut, Minggu (8/3) lalu.
Dipilihnya Mojtaba menandakan pertama kalinya posisi ini diwariskan dari ayah ke anak dalam sejarah Republik Islam Iran.
Laporan New York Post diketahui mengutip Khosro Isfahani, direktur penelitian untuk kelompok oposisi National Union for Democracy in Iran (NUFDI).
“Dalam wasiat Khamenei, dia secara eksplisit meminta agar Mojtaba tidak disebut sebagai penerus,” klaim Isfahani, yang mewakili organisasi advokasi politik diaspora Iran yang berkantor pusat di Washington.
“Mojtaba adalah seorang ulama muda yang tidak berdaya dan belum mencapai apa pun dalam kehidupan politik. Selama bertahun-tahun ini, dia tidak berarti apa-apa tanpa nama ayahnya,” lanjut Ishafan.
kata Isfahani kepada Post, menambahkan bahwa mendiang Ali Khamenei merasa putranya kurang berpengalaman atau kemampuan untuk memimpin Iran.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba Khamenei dipaksakan oleh Korps Garda Revolusi Islam. Beberapa ulama menentang langkah tersebut dan memboikot pertemuan di mana pemilihannya dilakukan, klaim laporan The Post.
“Majelis Pakar yang seharusnya memilih pengganti Khamenei tidak memilih Mojtaba. Ada banyak penolakan terhadapnya, tetapi di bawah tekanan dari IRGC, dia diangkat sebagai penggantinya,” klaim Ishafani.
Khamenei menentang Mojtaba ambil alih kekuasaan?
Di Iran, pemilihan pemimpin tertinggi melalui garis keturunan turun-temurun terjadi untuk pertama kalinya. Pemimpin, yang diputuskan oleh Majelis Pakar, harus memiliki kredibilitas keagamaan yang tinggi, pengalaman manajemen, dan pengakuan publik yang luas.
Di masa lalu, Ali Khamenei sendiri secara terbuka menentang suksesi dinasti. Pada tahun 2025, ia dilaporkan telah mengidentifikasi tiga ulama senior sebagai opsi cadangan, yang tidak termasuk Mojtaba, yang dianggap memiliki pangkat keagamaan yang rendah dan pengalaman pemerintahan formal yang kurang dibandingkan dengan para pemimpin senior lainnya dalam sistem tersebut.
