Tips Berdakwah yang Santun dan Menghindari Perang Komentar


Poso,Gpriority-Belakangan ini banyak sekali dakwah yang beredar di internet.Namun sayangnya karena tidak dikelola dengan baik, dakwah tersebut tidak terlalu diminati oleh masyarakat. Alasan inilah yang membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo mengangkat tema Dakwah yang Ramah di Internet dalam gelaran Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi yang difokuskan di Poso pada 14 Juni 2021.

Dalam Webinar yang diikuti 367 peserta, para narasumber handal dihadirkan seperti Abdurrahman Hasan selaku Pegiat Literasi dan Staf Pengajar MAN IC Sorong, Aulia Kholdi selaku Entrepreneur dan Influencer, Rinaldi Damanik selaku Pendeta dan Tokoh Perdamaian Poso, dan Lian Gowdjali selaku Founder Institut Mosinto Poso.

Abdurrahman Hasan yang berkesempatan menjadi pemateri pertama membawakan tema tentang Digital Skill dengan Pemanfaatan Internet untuk Penyebaran Konten Positif Bagi Pemuka Agama. Menurutnya, dakwah berarti mengajak seseorang kepada kebaikan, sehingga hal tersebut harus pula dilakukan dengan cara yang baik. Para pendakwah harus menjunjung nilai kesopanan dan harus menghindari adanya berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian, fitnah, serta propaganda atau adu domba antar pengikut agama.

Sayangnya, masyarakat sekarang kurang begitu tertarik akan kehadiran konten yang berbau dakwah agama, bahkan warganet lebih suka terhadap konten yang hanya mengandung hiburan semata. Selain itu, warganet juga perlu hati-hati akan dakwah yang isinya justru dapat memecah belah masyarakat. “Untuk itu, sebagai pendakwah harus mampu menyusun kalimat atau dalam menyampaikan kata-kata dakwah yang semenarik mungkin, tetapi harus dengan cara yang santun,” ujar Abdurrahman.

Selanjutnya, materi yang kedua disampaikan oleh Aulia Qaldi yang membawakan tema Bijak di Kolom Komentar. Untuk menghindari perang urat syaraf atau adu komentar di dunia maya, ada baiknya para warga untuk mengikuti sejumlah trik berikut. Antara lain, berkomentar sesuai konteks permasalahan, hindari menyinggung latar belakang seseorang, menggunakan bahasa sopan dan jauhi kata-kata kasar, menghargai pendapat orang lain, memikirkan kembali sebelum mengirimkan komentar, serta mengurungkan niat berkomentar bisa berisiko menimbulkan perdebatan.

Agar warganet lebih berhati-hati, berikut adalah jenis komentar yang berpotensi mengancam si pemberi komentar masuk ke ranah pidana. Yakni, pencemaran nama baik, berita bohong atau hoaks, komentar dengan nada ancaman, cuitan yang melanggar norma kesusilaan, serta hal-hal yang menyinggung SARA. “Contoh komentar tak pantas di internet dan media sosial, misalnya kalau kita bikin status isinya bernada ancaman, awas kamu ya kita akan ketemu di suatu tempat, lalu di-tag orang yang dimaksud,” ujar dia.

Lian Gogali yang tampil menjadi pemateri ketiga dengan mengambil tema Tips dan Pentingnya Internet Sehat. Pendiri sekolah untuk perempuan korban konflik Poso ini bilang, sejumlah gangguan di dunia maya umumnya mengancam data pribadi pengguna internet. Adapun jenis kejahatannya antara lain, cyber crime, sasaran iklan, serta gangguan privasi lainnya. “Tiba-tiba tengah malam kita menerima pesan, disangka penting tapi rupanya hanya iklan,” katanya.

Ada sejumlah tips yang diberikan Lian agar data pribadi warganet bisa tetap aman dan minim gangguan. Yakni, berhati-hati dalam memberikan informasi diri, buatlah kata sandi yang rumit dilacak orang lain, cek laman yang akan dikunjungi, berhati-hati kiriman alamat laman yang mencurigakan, update perangkat digital, pelajari pengaturan privasi di perangkat sosial media, serta hati-hati dan hindari menggunakan wifi publik.

Webinar Literasi Digital episode pertama di Poso ini tampaknya menarik sejumlah pemirsa diskusi. Sejumlah peserta ada yang mengajukan pertanyaan, seperti M. Maulana Yusuf yang meminta penjelasan hukum agama apabila seseorang menyebarkan hoaks dan apakah itu termasuk dosa jariah, sementara Novita Lestari juga menanyakan tips untuk kaum perempuan dalam mengampanyekan kesetaraan gender di media sosial. Dalam acara ini, panitia webinar juga menyediakan 10 voucher masing-masing senilai Rp 100.000 yang diberikan kepada 10 penanya terbaik.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif dari para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Related posts