Trump: Thailand dan Kamboja Sepakat Perbarui Gencatan Senjata

Trump: Thailand dan Kamboja Sepakat Perbarui Gencatan Senjata/Foto : Dok. Getty Images Trump: Thailand dan Kamboja Sepakat Perbarui Gencatan Senjata/Foto : Dok. Getty Images

Jakarta, GPriority.co.id – Pada Jumat (12/12) kemarin, Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump mengungkapkan bahwa para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk memperbarui gencatan senjata, usai melewati bentrokan mematikan dalam beberapa hari.

Dilansir dari NY Post, Trump mengumumkan kesepakatan Thailand-Kamboja untuk memulai kembali gencatan senjata, dalam sebuah unggahan di media sosialnya. Kesepakatan tersebut terjadi usai dirinya melakukan panggilan telepon bersama Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.

“Mereka telah setuju untuk MENGHENTIKAN semua penembakan mulai malam ini dan kembali ke Perjanjian Damai asli yang dibuat dengan saya dan mereka, dengan bantuan Perdana Menteri Malaysia yang hebat, Anwar Ibrahim,” kata Trump di akun Truth Social-nya.

Menurut Trump, Ibrahim memainkan peran penting dalam membantunya mendorong Thailand dan Kamboja untuk menyetujui penghentian pertempuran.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bekerja sama dengan Anutin dan Hun dalam menyelesaikan apa yang berpotensi berkembang menjadi perang besar antara dua negara yang luar biasa dan makmur!,” tambah Trump.

Gencatan senjata yang awalnya terjadi pada bulan Juli tersebut dimediasi oleh Malaysia dan didorong melalui tekanan dari Trump. Ia mengancama akan menahan hak istimewa perdagangan, kecuali Thailand dan Kamboja sepakat gencatan senjata.

Namun, kedua negara tetap melanjutkan perang propaganda yang sengit dan kekerasan lintas batas kecil pun terus berlanjut. Akar konflik perbatasan Thailand-Kamboja terletak pada sejarah permusuhan atas klaim teritorial yang saling bersaing.

Klaim-klaim tersebut sebagian bersar berasal dari peta tahun 1907 yang dibuat ketika Kamboja berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis, yang menurut Thailand tidak akurat.

Ketegangan pun semakin diperparah oleh putusan Mahkamah Internasional di tahun 1962 yang memberikan kedaulatan kepada Kamboja, yang hingga kini masih membuat banyak warga Thailand geram.

Thailand telah mengerahkan jet tempur untuk melakukan serangan udara terhadap apa yang mereka sebut sebagai target militer. Kamboja telah mengerahkan peluncur roket BM-21 dengan jangkauan 30-40 kilometer (19-25 mil).

Menurut data yang dikumpulkan oleh lembaga penyiaran publik ThaiPBS, setidaknya enam tentara Thailand tewas terkena pecahan roket. Komando regional timur laut Angkatan Darat Thailand mengatakan pada hari Kamis (11/12) lalu, beberapa daerah pemukiman dan rumah di dekat perbatasan rusak akibat peluncur roket BM-21 dari pasukan Kamboja.

Tentara Thailand juga mengatakan telah menghancurkan sebuah derek tinggi di puncak bukit yang dikuasai Kamboja, tempat kuil Preah Vihear yang berusia berabad-abad berada, karena derek tersebut diduga menyimpan perangkat elektronik dan optik yang digunakan untuk keperluan komando dan kendali militer.

Kendati demikian, Trump berulang kali membuat klaim yang dilebih-lebihkan bahwa dia telah membantu menyelesaikan delapan konflik, termasuk konflik antara Thailand dan Kamboja, sejak kembali menjabat pada bulan Januari, sebagai bukti kehebatan negosiasinya.

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan pada hari Rabu (10/12), ia menyatakan keyakinannya untuk dapat membawa kedua pihak kembali ke gencatan senjata.