UMK Tinggi, Pabrik Sepatu Nike dan Adidas di Tangerang Tutup?

UMK Tinggi, Pabrik Sepatu Nike dan Adidas di Tangerang Tutup/Foto : Dok. Istimewa UMK Tinggi, Pabrik Sepatu Nike dan Adidas di Tangerang Tutup/Foto : Dok. Istimewa

Tangerang, GPriority.co.id – Sejumlah pabrik sepatu dengan merk besar seperti Nike dan Adidas dilaporkan menutup pabriknya di kawasan Tangerang, Banten. Kabarnya, mereka ingin mencari wilayah dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

Dilansir dari laporan ANTARA pada Senin (3/11), pabrik sepatu tersebut diantaranya PT Victory Chingluh Indonesia yang memproduksi sepatu Nike dan melakukan PHK terhadap 3.000 karyawannya pada bulan Oktober ini. Selanjutnya, mereka akan memindahkan operasional ke wilayah Pekalongan, Batang, serta kawasan industri lainnya di daerah Jawa Tengah.

Senada, PT Tah Sung Hung yang menjadi produsen sepatu Adidas juga disebut akan memindahkan lini produksinya dari Tangerang ke wilayah Brebes, Jawa Tengah.

Pemicu utamanya ialah karena perbedaan upah minimun yang signifikan antara Tangerang serta daerah-daerah lain di Jawa Tengah, Cirebon salah satunya. Sebagai perbandingan, jika UMK Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang sebesar Rp5.069.708, di Kota Cirebon sendiri hanya Rp2.697.685 sementara di Kabupaten Cirebon sebesar Rp2.681.382.

Perbandingan UMK yang mencapai hampir 50 persen itulah yang kemudian menjadi pertimbangan besar bagi perusahaan padat karya untuk memindahkan pabriknya.

Kendati demikian, Rizky Aditya Wijaya, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai keputusan relokasi pabrik sepatu tersebut bukan hanya karena faktor biaya tenaga kerja, namun juga karena adanya penurunan permintaan pasar.

“Terjadinya PHK di fasilitas produksi, khususnya di wilayah Jawa Barat, ini kan alas kaki itu padat karya, komponen terbesar itu tenaga kerja. Jadi bukan berarti mereka PHK terus mereka stop produksi, enggak. Mereka pindah ke daerah tengah yang upahnya jauh lebih murah,” ujarnya.

Di sisi lain, Said Iqbal selaku Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh berpendapat jika industri sepatu sangat bergantung pada pembeli global. Ia mencontohkan Nike dan Adidas, yang disebutnya selalu mencari lokasi produksi dengan biaya yang kompetitif, namun tetap menjaga kualitas produknya.

Said menjelaskan, biaya operasional karyawan di pabrik atau perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, garmen, maupun sepatu, dapat mencapai 30 persen dari total pengeluaran perusahaan secara keseluruhan. Oleh sebab itu, saat upah minimum suatu wilayah sudah terlalu tinggi, sangat wajar jika banyak perusahaan akhirnya memilih untuk berpindah lokasi pabrik.

Kendati demikian, pabrik sepatu di Tangerang tak akan langsung ditutup secara keseluruhan. Beberapa lini produksi disebut masih akan tetap beroperasi sebagai penopang produksi apabila nantinya terjadi kendala di lokasi pabrik baru.