Waduh! Indonesia Duduki Peringkat 2 Sebagai Negara yang Warganya Paling Mudah Ditipu

Ilustrasi seseorang yang mendapat pesan terkait hadiah dari online/Foto : Dok. Shutterstock Ilustrasi seseorang yang mendapat pesan terkait hadiah dari online/Foto : Dok. Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Laporan Global Anti-Scam Alliance (GASA) bersama ScamAdviser, memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korban penipuan online tertinggi di dunia.

Data tersebut merujuk pada laporan global yang mengukur tingkat kerentanan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan, terutama penipuan digital, dengan mengukur berbagai faktor seperti jumlah korban, kerugian finansial, hingga tingkat literasi digital masyarakat.

Ada beberapa faktor utama yang membuat Indonesia berada di posisi kedua sebagai negara dengan warga yang mudah ditipu.

Pertama, tingginya pengguna internet dan media sosial

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Platform seperti WhatsApp, Instagram, dan marketplace online menjadi sarana utama aktivitas digital masyarakat. Namun, pertumbuhan ini tidak selalu diimbangi dengan edukasi keamanan digital yang memadai.

Banyak masyarakat masih mudah percaya pada tautan tidak dikenal, investasi bodong, hingga modus phishing yang mengatasnamakan bank atau instansi resmi.

Kedua, rendahnya literasi keuangan dan digital

Literasi keuangan dan digital yang belum merata menjadi celah utama bagi pelaku penipuan. Modus seperti investasi dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat masih sering memakan korban.

Padahal, otoritas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara rutin mengingatkan masyarakat untuk memverifikasi legalitas perusahaan investasi melalui kanal resmi sebelum menanamkan dana.

Ketiga, maraknya penipuan online dan social engineering

Penipuan berbasis rekayasa sosial (social engineering) semakin canggih. Pelaku sering menyamar sebagai customer service bank, petugas pajak, hingga kurir paket. Bahkan, ada modus penipuan dengan teknik deepfake yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.

Laporan dari Interpol juga menyebutkan bahwa kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu pusat aktivitas kejahatan siber lintas negara.

Dilansir dari laporan ANTARA, Kerugian akibat penipuan digital tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas ekonomi nasional. Nilai kerugian masyarakat Indonesia akibat scam online ditaksir mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

Selain kerugian finansial, dampak lainnya adalah menurunnya kepercayaan publik terhadap transaksi digital. Padahal, Indonesia sedang mendorong transformasi menuju ekonomi digital dan cashless society.