Waduh! Kualitas BBM Indonesia Terburuk di ASEAN, Ini Penyebabnya

BBM Indonesia terburuk di ASEAN karena menyebabkan polusi udara dan mengganggu kesehatan masyarakat/Foto : Ilustrasi Dok. Vecteezy BBM Indonesia terburuk di ASEAN karena menyebabkan polusi udara dan mengganggu kesehatan masyarakat/Foto : Ilustrasi Dok. Vecteezy

Jakarta, GPriority.co.id – Menyoroti isu BBM di tanah air yang belakangan ramai diperbincangkan, sebuah laporan mengungkap fakta dan menyebut jika kualitas BBM Indonesia terburuk di ASEAN.

Dirilis dari laporan International Council on Clean Transportation (ICCT) pada Kamis (9/10), kualitas BBM Indonesia dinilai terburuk di ASEAN karena tingginya kandungan sulfur pada diesel yang beredar di Indonesia.

Sebagai perbandingan, saat negara lain menerapkan Euro 4 (kandungan sulfur maksimal 50 ppm) dan Euro 5 (kandungan sulfur maksimal 10 ppm), BBM di Indonesia justru masih memiliki kandungan sulfur sekitar 150-2.000 ppm yang akhirnya memperparah polusi udara di Indonesia.

Dalam laporan lain disebutkan jika 7 dari 10 kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di ASEAN ialah kota-kota dari Indonesia. Diantaranya seperti Tangerang Selatan, Bekasi, Pekanbaru, Pontianak, Jakarta, Talawi, hingga Surabaya.

Studi mengatakan, BBM (Bahan Bakar Minyak) berkadar sulfur tinggi berkontribusi sekitar 43 persen terhadap polutan. Ditambah lagi, dapat menyebarkan partikel halus yang berbahaya bagi kualitas udara serta kesehatan masyarakat.

Menurut ICCT, tingkat PM2.5 (Particulate Matter) di Jakarta lebih tinggi 4-5 kali dari batas WHO. Akiabtnya, banyak masyarakat yang menderita masalah kesehatan akibat polusi udara. Data BPJS Kesehatan di tahun 2023 mengklaim penyakit yang berkaitan dengan polusi di Jakarta mencapai Rp1,2 triliun.

Untuk mengatasi polusi udara di tanah air, gabungan analis dari IESR, RCCC, UI, KPBB, serta Core Indonesia, sebenarnya sudah mendesak pemerintah untuk menerapkan standar BBM Euro 4. Apabila BBM Euro 4 tersebut diterapkan pada 2025-2030, maka angka polutan berbahaya dapat menurun.

Kendati demikian, penerapan standar BBM Euro 4 akan menambah biaya produksi BBM mencapai Rp200-500 per liter. Pemerintah diharapkan dapat merancang skema pembiayaan yang lebih adil serta tak membebani masyarakat ke depannya.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belum lama ini mengumumkan rencana wajib mencampurkan bensin dengan etanol sebesar 10 persen untuk BBM. Tujuannya, untuk membuat BBM lebih ramah lingkungan serta mengurangi ketergantungan impor.

Bahlil mengatakan, etanol dapat mengurangi emisi karbon terutama CO2. Ia menyebut, kebijakan ini bahan telah diterapkan di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, hingga Australia. Meskipun begitu, kebijakan ini menimbulkan pro-kontra. Pasalnya salah satu kekurangan pencampuran etanol pada BBM ialah dapat menyebabkan korosi pada tangki serta pipa logam kendaraan dalam jangka waktu lama, juga dapat merusak komponen kendaraan.