Wamen Stella Tegaskan Pendidikan Tinggi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie/Foto Fifi Abdurahman Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pernyataan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan kesimpulan yang didukung oleh data dan teori ekonomi.

Stella menjelaskan, pernyataan tersebut sering kali hanya disetujui secara normatif, tanpa benar-benar dipahami mekanisme konkretnya. Bahkan, ia menilai masih terdapat keraguan tersirat di berbagai kementerian dan lembaga mengenai peran strategis pendidikan tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Jadi pada hari ini saya ingin berbagi kepada teman-teman sekalian tentang mekanisme detil bahwa pendidikan tinggi itu kunci pertumbuhan ekonomi bukanlah sekedar slogan, tetapi itu adalah berdasarkan angka-angka,” kata Stella dalam acara Human Development Synergy Forum “Brain Gain For Indonesia Emas 2045, di Kemenko PMK, Kamis (18/12).

Ia kemudian merujuk pada teori pertumbuhan ekonomi yang dikenal luas, yakni Romer’s Model of Economic Growth. Dalam teori tersebut, ekonom Paul Romer menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari kondisi pertumbuhan stagnan atau steady state, yang juga dikenal sebagai Malthusian trap, adalah melalui investasi pada sumber daya manusia, pengetahuan, dan inovasi.

Stella menjelaskan, investasi pada aset fisik seperti infrastruktur memang penting, namun memiliki batas keuntungan marjinal (diminishing returns). Pada titik tertentu, penambahan investasi fisik tidak lagi menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Sebagai contoh, pembangunan jalan raya dapat mendorong aktivitas ekonomi, tetapi seiring bertambahnya pengguna, manfaat per individu justru menurun. Untuk mengatasi kemacetan, pemerintah harus kembali membangun jalan baru, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi stagnan.

“Artinya dengan diminishing margin of return itu tidak akan ada lagi pertumbuhan ekonomi. Kalau inputnya ditambah dan outputnya bertambah itu tidak ada pertumbuhan, konstan,” tuturnya.

Dia menambahkan, beda halnya dengan investasi berbasis ide dan inovasi. Stella mencontohkan teorema Pythagoras sebagai sebuah ide yang dapat digunakan oleh banyak orang tanpa mengurangi manfaat bagi masing-masing individu.

““Kalau satu jalan dipakai oleh 200 mobil tentu saja jatah per mobilnya akan berkurang dibandingkan satu jalan dipakai oleh hanya 20 mobil. Tetapi teori Pitagoras atau ide itu tidak akan pernah berkurang,” pungkasnya.