Jakarta, GPriority.co.id — Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr Ngabila Salama, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seiring datangnya musim hujan.
Menurut dr Ngabila, DBD merupakan neglected tropical disease yang sudah endemik di Indonesia dan memiliki pola yang cenderung sama setiap tahunnya.
“Perbedaan kenaikan kasus biasanya hanya sekitar satu bulan setelah musim hujan. Misalnya, jika puncak hujan terjadi pada Maret, maka puncak kasus DBD biasanya terjadi pada April. Siklus perkembangbiakan nyamuk berlangsung sekitar dua minggu,” dr Ngabila dalam keterangannya, Sabtu (1/11).
Ia menambahkan, peningkatan kasus DBD tahun ini juga dipengaruhi oleh kemarau ekstrem panjang atau El Nino yang terjadi pada Juli–November 2023.
“Trend kasus DBD akan meningkat pasca El Nin dan di musim penghujan dengan pola sama dari tahun ke tahun, akan mulai meningkat pada Desember, puncaknya April, lalu kembali turun,” tuturnya.
Peningkatan kelembapan udara selama musim hujan, kata Ngabila, memicu perkembangan nyamuk lebih cepat. Tetesan air hujan membuat telur nyamuk lebih mudah menetas menjadi jentik, sementara wadah-wadah berisi air menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.
Meski begitu, dr Ngabila mengimbau masyarakat agar tidak panik, melainkan fokus pada pencegahan.
“Jangan panik. Cegah sakit dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan utamanya PSN 3M Plus dan vaksinasi. Gencarkan pula Gerakan 1 Rumah 1 Kader Jumantik (G1R1J) dengan menunjuk petugas PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di rumah, bisa ibu, bapak, anak, ART, dan lainnya, yang rutin melakukan pemeriksaan jentik dengan prinsip 3 x 10 setiap Jumat pagi,” jelas dr Ngabila.
Adapun prinsip 3 x 10 yakni dilakukan pukul 10 pagi (saat nyamuk DBD aktif), dilakukan selama 10 menit efektif, dan dilakukan minimal 10 minggu berturut-turut.
Dr Ngabila menambahkan, untuk mencegah komplikasi dan kematian akibat DBD, kuncinya adalah deteksi dini dan rehidrasi cepat.
“Jika demam 1×24 jam demam atau keluhan tidak membaik di rumah, bawa segera ke puskesmas terdekat, periksa darah dan rapid test DBD (NS1) gratis di seluruh puskesmas kecamatan Jakarta,” tegasnya
Lebih lanjut, dr Ngabila menjelaskan, bahwa gejala DBD pada orang dewasa, dimana biasanya berupa demam tinggi di atas 39°C, demam naik turun, nyeri belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta mual dan muntah.
Sedangkan pada anak-anak, gejalanya bisa tidak khas, seperti batuk, pilek, diare, atau sulit buang air besar, bahkan bisa disertai infeksi campuran dengan tifoid.
“Jika sudah terkena DBD 1 kali masih bisa terkena sampai 4 kali, karena DBD punya 4 varian saat ini DEN 1,2,3,4. Jika sudah sembuh DBD juga dapat langsung dilakukan vaksinasi dengue tanpa menunggu,” pungkasnya.
