Jakarta, GPriority.co.id – Workaholic (pecandu kerja) atau pekerja keras seperti pengusaha, pekerja dengan tekanan tinggi, hingga mereka yang perfeksionis dalam bekerja, biasanya kerap kali mengalami 1 permasalahan yang sama, insomnia.
Meski tubuh mereka lelah, pikiran mereka tetap aktif sehingga sulit berpindah ke mode switch off saat malam hari.
Dilansir dari laporan NY Post pada Rabu (18/3), Dr. Willian Lu dari Dreem Health, menyebut kondisi ini terjadi karena otak mereka terus berada dalam mode berpikir. Mulai dari merencanakan, menganalisis, hingga mengulang kejadian di hari itu. Hormon stres seperti kortisol juga tetap tinggi, sehingga membuat tubuh mereka sulit masuk ke fase istirahat.
Untuk mengatasi masalah tersebut, para ahli membagikan sejumlah strategi yang terbukti efektif.
1. Bangun Rutinitas Sebelum Tidur
Memiliki rutinitas yang konsisten sebelum tidur sangat penting. Aktivitas sederhana seperti meredupkan lampu, menjauh dari layar gadget, dan melakukan kegiatan santai dapat memberi sinyal pada tubuh bahwa waktu istirahat telah tiba.
Cahaya yang redup membantu produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur.
2. “Brain Dump” atau Menuangkan Pikiran
Jika pikiran terasa penuh, cobalah menuliskan semua hal yang ada di kepala sebelum tidur. Teknik ini membantu “memindahkan” beban mental ke kertas sehingga otak tidak terus mengulang-ulangnya saat mencoba tidur.
3. Latihan Pernapasan dan Relaksasi
Teknik pernapasan dalam dan perlahan dapat menenangkan sistem saraf dan menurunkan detak jantung. Ditambah dengan relaksasi otot progresif (menegangkan lalu melepas otot), cara ini membantu tubuh benar-benar rileks.
4. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Mendukung
Lingkungan juga berperan besar. Beberapa cara yang disarankan:
– Menggunakan white noise untuk meredam suara mengganggu
– Memakai tirai gelap (blackout curtain)
– Mendengarkan meditasi atau audio relaksasi
Metode ini membantu mengalihkan fokus pikiran yang biasanya sibuk.
Bagi mereka yang sulit “mematikan” pikiran, tidur bukan sekadar soal kelelahan fisik, tetapi juga kemampuan menenangkan mental. Kombinasi rutinitas, teknik relaksasi, dan lingkungan yang tepat dapat membantu otak beralih dari mode produktif ke mode istirahat.
