Washington, Gpriority.co.id – Joe Kent, mantan Green Beret AS dan Direktur National Counterterrorism Center (NCTC) di era Trump, mengundurkan diri pada 17 Maret 2026. Pengunduran diri ini karena ia menolak perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai 28 Februari.
Dalam suratnya di X, Kent menegaskan, “Saya tidak bisa dengan hati nurani bersih mendukung perang di Iran. Iran tidak ancam AS secara nyata. Kita mulai ini karena tekanan Israel dan lobi kuatnya.”
Kent pun menyamakan narasi “ancaman imminent” dengan propaganda Irak, disoroti pula akan biaya nyawa dan duit AS yang bertentangan janji Trump.
Kent, 45 tahun lulusan Norwich University, memiliki pengalaman militer selama 20 tahun (11 tugas di Timur Tengah, 75th Ranger Regiment, Special Forces), enam Bronze Star, lalu perwira CIA. Istri pertamanya, Shannon Kent yang merupakan anggota AL AS tewas dalam bom ISIS di Suriah pada 2019. Pengalaman itulah yang membentuk sikap anti-perang sia-sia. “Saya tak mau generasi muda mati percuma,” ujarnya.
Terkait pemgunduran dirinya, Presiden Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih dengan sinis menyebut jika Kent orang baik, tapi lemah akan situasi keamanan. “Suratnya bikin saya sadar lebih baik dia keluar. Kami punya bukti Iran mau serang duluan. Klaim Kent palsu,” tandasnya.
Adapun Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan tuduhan pengaruh asing yang disampaikan Kent adalah “menghina”. Direktur Intelijen, Tulsi Gabbard juga menyampaikan jika “Trump yang tentukan ancaman sendiri.
Jika lingkaran Gedung Putih membela Trump, sebaliknya dukungan terhadap mundurnya Kent juga sampai dari lingkungan Make American Great Again (MAGA), Komunitas pendukung Trump. “Joe pria paling pemberani, ia tinggalkan akses intelijen top. Neokon mau hancurkan dia,” katanya.
Tokoh MAGA lainnya, Megyn Kelly menegaskan jika langkah Kent sejalan “America First”, yaitu memprioritaskan rakyat AS bukan Israel/Iran. Sementara Senator Demokrat Mark Warner juga setuju dengan Kent yang menyebut tak ada bukti ancaman Iran secara kredibel.
Pengunduran Kent jadi kritik MAGA pertama terhadap perang minggu ketiga, picu perdebatan soal pengaruh Israel di Washington. Ini sekaligus menandakan adanya keretakan diantara pendukung Trump sendiri.
Foto : Wikipedia
