Jakarta, GPriority.co.id – Menjalankan olahraga di bulan Ramadan memiliki tantangan tersendiri karena tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Karena itu, perlu strategi yang tepat agar aktivitas fisik tetap bisa dilakukan tanpa mendorong seseorang membatalkan puasa.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Goenawan Partowidigdo, dr. Helmi Fakhruddin, menegaskan bahwa olahraga tetap penting dilakukan selama Ramadan. Namun, pola dan intensitasnya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh yang sedang berpuasa.
Menurut dr. Helmi, olahraga di bulan Ramadan sebaiknya dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang. Aktivitas yang biasa dilakukan dengan intensitas tinggi, seperti padel atau tenis, bisa diganti dengan joging ringan atau senam.
“Cuma ada bedanya, baik untuk pasien diabetes maupun orang normal kita menganjurkan untuk olahraga-olahraga intensitas ringan–sedang, seperti mungkin kalau kita biasa main padel, tenis, mungkin di bulan ramadan jaid cuma joging atau mungkin senam itu bisa,” kata dr. Helmi dalam diskusi bertajuk Puasa Aman untuk Diabetes: Yuk Siapin dari Sekarang! yang disiarkan langsung melalui Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (11/2).
Ia mengingatkan, olahraga berat saat berpuasa berisiko menimbulkan dehidrasi, terutama bagi penderita diabetes.
Selain itu, lanjut dia, durasi olahraga juga perlu dibatasi agar tidak terlalu lama.
“Joging sekitar rumah 15–30 menit cukup,” tuturnya.
Terkait waktu pelaksanaan, dr. Helmi menyarankan olahraga dilakukan pada sore hari atau menjelang waktu berbuka puasa. Ia tidak menyarankan olahraga di pagi hari karena jarak waktu menuju berbuka masih panjang dan dikhawatirkan dapat menguras energi untuk aktivitas berikutnya.
“Waktu kalau bisa kita olahraga pada saat mendekati buka puasa. Jadi kalau di Indonesia kan ada budaya ngabuburit, jadi daripada mgabuburit kita cuma cari makan aja, sekalian kita olahraga bisa lebih bermanfaat,” ucap dr Helmi.
Selain itu, olahraga sebaiknya dilakukan di tempat tertutup atau area yang tidak terpapar sinar matahari secara berlebihan.
Khusus bagi pasien dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes, dr. Helmi juga menyarankan agar berolahraga bersama teman. Hal ini penting untuk mengantisipasi jika terjadi kondisi darurat, seperti hipoglikemia.
“Nah, tujuannya ngajak teman selain buat teman ngobrol saat olahraga juga kalau misal ada apa-apa, entah itu dia tiba-tiba hipoglikemi atau misal ada masalah apapun, ada teman atau orang terdekat yang tahu kondisi medis kita bisa sigap bantu,” pungkasnya.
