Jakarta, GPriority.co.id – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku avtur berbasis energi terbarukan. Upaya ini dinilai sejalan dengan komitmen pengembangan energi berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan menyampaikan bahwa bioavtur dapat diproduksi dari berbagai jenis minyak nabati, tidak terbatas pada minyak jelantah saja. Minyak sawit virgin juga memiliki potensi yang sama selama dikelola secara berkelanjutan.
“Kalau untuk bio avtur, memang bahan bakunya kan berbagai jenis minyak, salah satunya minyak jelantah,” ujarnya.
Dadan menjelaskan, dari sisi teknologi pengolahan, tidak terdapat perbedaan signifikan antara minyak jelantah dan minyak nabati lainnya dalam proses produksi bioavtur.
“Jadi tidak ada sesuatu yang dari sisi pengolahan sih sama saja. Mau minyak apapun, tapi kalau pasarnya di luar negeri, memang minyak jelantah itu dinilai lebih ramah lingkungan,” lanjutnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa minyak sawit maupun minyak nabati virgin pada prinsipnya juga dapat dikategorikan sebagai bahan baku berkelanjutan, selama proses produksinya memenuhi standar lingkungan yang berlaku.
“Ini juga sesuatu yang harus kita sama-sama dorong bahwa minyak di lantai dan juga minyak nabati yang asli, bisa disebut minyak nabati virgin, itu pun sama-sama berkelanjutan sebetulnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dadan menekankan bahwa aspek terpenting dalam pengembangan bioavtur berbasis minyak nabati adalah tata kelola industri di sektor hulu, khususnya kelapa sawit.
“Kalau kita bisa mengembangkan produksi sawitnya yang berkelanjutan,” ucapnya.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) berencana mengekspor Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan yang berbahan baku minyak jelantah.
Komisaris Utama dan Independen Pertamina Mochammad Iriawan mengatakan agar harga dari avtur berbahan baku minyak jelantah dapat bersaing dengan harga avtur lainnya di kawasan Asia Tenggara.
“Tentunya harganya nanti harus bersaing dengan produk-produk yang lainnya. Yang jelas, di ASEAN ini kita yang pertama (mengolah minyak jelantah jadi avtur),” kata Iwan dikutip Antara.
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyampaikan bahwa hal-hal terkait penggunaan avtur berbahan minyak jelantah akan menyesuaikan kapasitas produksi.
Saat ini, avtur dari minyak jelantah tersebut hanya diproduksi di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Adapun kapasitas produksi avtur dari minyak jelantah tersebut sebesar 8.700 barel per hari.
“Jadi targetnya tentu selain untuk maskapai kami (Pelita), kami juga targetkan untuk ekspor,” ujar Fadjar.
