Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti fenomena scroll society yang kini banyak terjadi di kalangan generasi muda. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan masyarakat yang terus menggulir informasi di perangkat digital tanpa sempat memahami makna secara utuh.
Mendikdasmen menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional perlu bertransformasi dari pola pembelajaran yang bersifat permukaan menuju pendekatan yang lebih mendalam melalui strategi deep learning atau pembelajaran mendalam.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat tidak selalu diikuti dengan kedewasaan perilaku digital masyarakat. Kondisi ini memunculkan ketimpangan budaya atau cultural lag.
“Masyarakat saat ini mahir mengusap layar namun tidak mencerna makna, yang berujung pada rendahnya Digital Civility Index,” jelasnya.
Ia menilai ketergantungan terhadap konten instan berpotensi menimbulkan berbagai tantangan bagi generasi muda. Di antaranya kemampuan berpikir yang menjadi lebih lambat karena terbiasa mengonsumsi informasi singkat tanpa analisis yang mendalam.
Selain itu, kebiasaan tersebut juga dapat membuat generasi muda lamban dalam mengambil inisiatif di dunia nyata serta mudah menyerah ketika menghadapi persoalan, karena lebih memilih meluapkan keluhan di media sosial dibanding mencari solusi konkret.
Sebagai respons terhadap fenomena tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (deep learning) dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Pendekatan ini menekankan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap materi pembelajaran melalui tiga prinsip utama, yaitu mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan).
“Kita mendorong agar siswa tidak mengejar banyaknya materi saja, yang lebih penting adalah memastikan siswa benar-benar memahami apa yang dipelajari,” ujarnya.
Selain itu, Kemendikdasmen juga terus memperkuat kapasitas guru melalui berbagai program peningkatan kompetensi. Salah satunya melalui kebijakan Satu Hari Belajar Guru yang memberikan kesempatan bagi tenaga pendidik untuk memperbarui metode pembelajaran dan meningkatkan kualitas pengajaran.
Dalam konsep tersebut, guru juga didorong berperan sebagai guru wali yang tidak hanya menegakkan disiplin, tetapi juga mendampingi perkembangan siswa secara lebih personal.
“Di dunia kerja sekarang, yang paling penting adalah kemampuan berpikir analitis. Kemampuan lainnya seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas adalah hal yang mendasar. Selain itu, kemampuan di bidang AI dan Koding juga menjadi prioritas. Oleh sebab itu, kita ajarkan hal ini sejak di sekolah”, ujar Menteri Abdul Mu’ti.
