Harga Minyak Mentah Brent Melonjak Buntut Perang Timur Tengah

Ilustrasi kilang minyak/Foto : Dok. AFP Ilustrasi kilang minyak/Foto : Dok. AFP

Timur Tengah, GPriority.co.id – Harga minyak global melonjak pada hari Jumat (6/3) kemarin. Laporan AFP menyebut, harga minyak mentah Brent bahkan mencapai USD90 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, karena meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak secara global menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dan dampak ekonomi yang lebih luas. Kenaikan tajam ini terjadi ketika serangan menargetkan ladang minyak di Irak dan ketegangan semakin dalam dalam perang yang sedang berlangsung yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada saat yang sama, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan lapangan kerja yang tidak terduga membebani pasar saham global.

Harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari enam persen menjadi USD91,89 per barel, sementara patokan minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak lebih dari 11 persen dan diperdagangkan di atas USD90.

Lonjakan ini terjadi setelah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat berlarut-larut setelah Presiden AS Donald Trump menuntut penyerahan tanpa syarat Iran, sebuah sikap yang menurut para analis mengurangi harapan akan penyelesaian diplomatik yang cepat.

Perang dan serangan balasan di seluruh wilayah Teluk telah mengganggu jalur energi dan pengiriman. Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, titik penting yang dilalui sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia, telah menurun tajam karena perusahaan pelayaran menghindari wilayah tersebut.

Harga minyak telah melonjak drastis selama seminggu terakhir, dengan Brent naik lebih dari 25 persen dan WTI naik sekitar sepertiga. Analis pasar memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap infrastruktur energi atau jalur pelayaran dapat mendorong harga lebih tinggi lagi dan menciptakan konsekuensi serius bagi ekonomi global.

Kekhawatiran juga meningkat setelah laporan bahwa serangan menghantam fasilitas minyak di Irak selatan dan wilayah otonom Kurdistan, memaksa ladang minyak yang dioperasikan AS untuk menghentikan produksi.

Meskipun Amerika Serikat telah berjanji untuk melindungi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, banyak perusahaan pelayaran tetap berhati-hati. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS sedang bersiap untuk mengawal kapal-kapal melalui jalur air vital tersebut ketika kondisi memungkinkan. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan serangan pesawat tak berawak terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz pada hari Jumat, yang memicu kebakaran di atas kapal tersebut.

Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran akan inflasi global yang kembali meningkat. Biaya minyak yang lebih tinggi dapat membatasi kemampuan bank sentral untuk memangkas suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, data ekonomi dari Amerika Serikat menambah ketidakpastian pasar. Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa perekonomian kehilangan 92.000 pekerjaan pada bulan Februari, membalikkan revisi kenaikan 126.000 pekerjaan yang tercatat pada bulan Januari. Tingkat pengangguran juga sedikit meningkat.

Data tambahan menunjukkan penjualan ritel AS turun 0,2 persen pada bulan Januari, menandakan melemahnya permintaan konsumen.