Stok Beras Cukup untuk 324 Hari, Mentan Imbau Masyarakat Tak Khawatir

Ilustrasi stok beras nasional. Foto: istimewa Ilustrasi stok beras nasional. Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional, khususnya beras, berada dalam situasi aman meski dunia tengah menghadapi dinamika geopolitik dan potensi fenomena iklim seperti El Nino serta kekeringan.

Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, ketersediaan beras nasional dinilai sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka waktu yang panjang.

“Ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Amran dikutip laman resmi Sekertariat Negara, Selasa (10/3).

Amran menjelaskan, total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari stok Perum BULOG sebesar 3,76 juta ton, stok yang berada di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi yang siap panen sebesar 11,73 juta ton.

Selain itu, produksi beras nasional juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras tercatat mencapai sekitar 16,92 juta ton.

Setiap bulan, produksi beras nasional berada di kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton, angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi rata-rata nasional yang sekitar 2,59 juta ton per bulan.

“Tiap bulan kita produksi 2,6-5,7 juta ton, sedangkan kebutuhan kita adalah 2,59 juta ton per bulan, jadi pangan aman,” ujarnya.

Di sisi lain, stok beras pemerintah yang dikelola oleh BULOG juga diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini seiring dengan masuknya hasil panen raya dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita perkirakan dalam dua bulan ke depan stok BULOG bisa mencapai 5 juta ton. Ini akan semakin memperkuat cadangan pangan pemerintah,” ujar Amran.

Untuk mengantisipasi potensi kekeringan akibat perubahan iklim, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya melalui program pompanisasi guna menjaga pasokan air bagi lahan pertanian.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk bagi petani dalam kondisi aman. Bahkan, harga pupuk disebut mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam,” kata Amran.

Amran juga menekankan bahwa optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan, terutama saat musim kering.

Menurutnya, lahan rawa memiliki potensi besar untuk tetap menghasilkan produksi padi meskipun pasokan air di wilayah lain mengalami keterbatasan.

“Insyaallah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” ucapnya.