Bali, GPriority.co.id – Video Nyimas Laula yang memarahi seorang pengunjung gym di Bali viral di media sosial dan menuai pro-kontra.
Dalam video tersebut, Nyimas melontarkan kata-kata kasar setelah seseorang melintas di depan jalurnya saat ia sedang mengangkat beban.
Usai insiden itu viral, kini muncul perdebatan, apakah memang ada aturan yang melarang orang melintas ketika atlet sedang melakukan angkat beban?
Setelah menjadi sorotan publik, Nyimas memberikan klarifikasi melalui media sosial. Ia mengaku emosinya terpancing karena merasa keselamatannya terancam ketika seseorang berjalan tepat di depan area angkat beban.
“Saya mengakui cara saya menyampaikan emosi itu salah. Saya minta maaf atas kata-kata kasar yang saya ucapkan. Tapi yang saya perjuangkan adalah soal safety saat melakukan lifting,” ujar Nyimas dalam klarifikasinya yang dikutip iNews. Ia juga menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi saat dirinya sedang fokus mengangkat beban dengan teknik kompetisi.
Salah satu pengguna TikTok yang mengaku pernah menjadi member di tempat gym tempat Nyimas Laula angkat beban pun membuka suara.
Ia menyebut, saat itu Nyimas tengah mengikuti kelas Olympic Weightlifting atau Oly.
“Posisi platform tempat dia attempt ini di depannya ada dumbbells yang dijejerin, dan ada cermin. Dalam oly, rulesnya memang ga boleh attempt kalo ada yang lewat, karena bahaya kelempar ke depan, ngerusak fokus & mental buat attempt,” tulisnya.
Pengguna TikTok dengan username @grumpybic itu pun melanjutkan, “But, kalopun ke distract, boleh kok ngajuin buat next attempt ke coachnya tanpa harus marah-marah dan memaki. Kan public space, dan ini pun kelas, bukan lomba. Jadi ya agak berlebihan aja.”
Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan dari IWF atau Federasi Angkat Besi Internasional.
Dalam cabang Olympic Weightlifting, atlet melakukan dua jenis angkatan, yakni snatch dan clean and jerk, yang membutuhkan konsentrasi penuh, keseimbangan, serta ruang gerak yang aman. IWF menetapkan bahwa seluruh angkatan dilakukan di atas platform khusus tanpa gangguan dari orang lain selama percobaan berlangsung.
Meski demikian, tidak ada aturan resmi IWF yang secara eksplisit menyebut “dilarang melintas di depan atlet”.
Larangan tersebut lebih merupakan bagian dari standar keselamatan (safety etiquette) yang telah menjadi kebiasaan di komunitas angkat besi dan strength training.
Alasannya sederhana. Atlet yang sedang mengangkat beban berat memiliki fokus visual ke depan. Gangguan sekecil apa pun dapat memengaruhi konsentrasi, keseimbangan, hingga meningkatkan risiko cedera atau kegagalan mengendalikan barbel.
Di banyak gym yang memiliki area Olympic Weightlifting, pengunjung juga dianjurkan tidak berjalan di depan platform ketika seseorang sedang melakukan angkatan. Jika harus melintas, etika yang umum diterapkan adalah menunggu beberapa detik hingga percobaan selesai atau mengambil jalur di belakang atlet.
Namun, dari kasus Nyimas Laula yang perlu menjadi perhatian ialah aspek keselamatan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan intimidasi atau mengucapkan kata-kata kasar kepada orang lain. Apalagi di pusat kebugaran umum, tidak semua pengunjung memahami etika khusus olahraga angkat besi karena sebagian besar bukan atlet kompetisi.
Selain itu kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa keselamatan dan etika di gym harus berjalan beriringan. Pengunjung sebaiknya menghormati ruang latihan atlet atau lifter yang sedang mengangkat beban berat, sementara atlet maupun penghobi angkat besi tetap dituntut menyampaikan teguran secara santun. Dengan demikian, lingkungan gym dapat tetap aman, nyaman, dan saling menghargai bagi semua pengguna.
