Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak terjadi kenaikan harga beras di tengah isu meningkatnya biaya logistik dan kemasan plastik.
Hal tersebut disampaikan Amran saat meninjau stok beras di gudang Perum Bulog di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).
Ia menekankan pemerintah tetap menjaga stabilitas harga melalui kebijakan yang telah ditetapkan, termasuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai instrumen pengendali pasar.
“Ada HET (harga eceran tertinggi). Jadi ada harga eceran tertinggi. Kami minta seluruh teman-teman pedagang jangan menaikkan harga di atas HET,” kata Amran dikutip Antara.
Amran memastikan harga beras SPHP tidak mengalami perubahan dan tetap dipertahankan guna mencegah lonjakan harga di tingkat konsumen.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan harga pemerintah berbasis data, khususnya indikator inflasi nasional. Menurutnya, dalam dua tahun terakhir beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi.
“Kita jangan pakai rasa, kita pakai rasio penyumbang inflasi. Dulu ini (beras) dua tahun terakhir bukan beras penyumbang inflasi utama. Dulunya selalu nomor satu, nomor dua, nomor tiga. Sekarang ini bukan penyumbang inflasi utama jadi kita pakai data. Nah SPHP kita tidak naikkan tetap harganya seperti sekarang,” tegas Amran.
Selain SPHP, pemerintah juga menerapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium sebagai langkah menjaga kestabilan pasar.
Amran meminta pelaku usaha tidak menaikkan harga di atas batas yang telah ditentukan. Ia menilai tidak ada alasan dari sisi pasokan yang dapat membenarkan kenaikan harga saat ini, terlebih kondisi Indonesia kini tidak lagi bergantung pada impor beras seperti sebelumnya.
Untuk mengantisipasi praktik spekulasi, pemerintah melalui Satgas Pangan akan memperketat pengawasan.
Hingga saat ini, tercatat 76 tersangka dalam berbagai kasus pangan, mulai dari beras, pupuk hingga minyak goreng, dengan total kerugian mencapai Rp3,3 triliun.
Dari sisi ketersediaan, Amran mengungkapkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog telah mencapai 5.198.000 ton per 23 April 2026, yang disebut sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah.
Ia menegaskan kondisi stok yang melimpah serta pengawasan ketat menjadi alasan kuat bahwa harga beras seharusnya tetap stabil di pasaran.
Sebagai informasi, HET beras medium ditetapkan sebesar Rp13.500 per kilogram, sementara beras premium Rp14.900 per kilogram. Adapun harga beras SPHP tetap mengikuti ketentuan zonasi wilayah, yakni berkisar antara Rp12.500 hingga Rp13.500 per kilogram.
