Trump Ungkap Strategi Militer AS di Hari ke-55 Perang dengan Iran

Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers terbarunya/Foto : Dok. AFP Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers terbarunya/Foto : Dok. AFP

Washington, GPriority.co.id – Di hari ke-55 perang dengan Iran, Presiden AS Donald Trump mengungkap strategi militer AS.

Dalam laporan AFP, Trump menegaskan sikap tegasnya terhadap Teheran, sekaligus meluruskan spekulasi terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, Trump secara jelas membantah bahwa AS akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik ini. Ia mengatakan bahwa langkah tersebut tidak diperlukan karena kekuatan militer konvensional Amerika sudah cukup untuk melumpuhkan Iran.

Pernyataan ini mempertegas arah strategi Washington yang lebih mengandalkan tekanan militer dan diplomasi dibandingkan eskalasi nuklir.

Trump menyebut bahwa Iran telah “dihancurkan” secara signifikan oleh serangan militer yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Ia juga menegaskan bahwa senjata nuklir bukanlah opsi yang ingin digunakan oleh pihak manapun.

Pernyataan ini sejalan dengan laporan Reuters yang menyebut Trump menekankan bahwa “tidak ada kebutuhan” untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang tersebut.

Meski demikian, Trump tetap menunjukkan sikap keras terhadap Teheran. Ia memperingatkan bahwa jika Iran menolak mencapai kesepakatan damai, maka Amerika Serikat siap melanjutkan operasi militer hingga target strategis yang tersisa benar-benar dihancurkan. Bahkan, ia menegaskan kesiapan untuk menyelesaikan konflik “secara militer” jika diplomasi gagal.

Konflik ini sendiri bermula dari serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Tujuan utama operasi tersebut, menurut pemerintah AS, adalah menghentikan ancaman nuklir yang dianggap berasal dari Teheran.

Sejak saat itu, perang berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan serangan balasan Iran ke berbagai target, termasuk pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi ini juga berdampak pada jalur perdagangan global, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.

Dalam perkembangan terbaru, Trump juga menyinggung kemungkinan tercapainya kesepakatan damai, namun ia menolak terburu-buru. Ia menyatakan bahwa dirinya bisa saja mencapai kesepakatan dengan cepat, tetapi lebih memilih menunggu demi memastikan hasil yang “permanen dan kuat.”

Sementara itu, situasi di dalam Iran dilaporkan semakin kompleks. Trump bahkan menyoroti adanya ketidakstabilan internal di pemerintahan Iran.

Dalam pernyataan terpisah, ia menyebut bahwa Iran sedang mengalami kesulitan dalam menentukan kepemimpinan mereka. Hal ini dinilai sebagai salah satu faktor yang memengaruhi jalannya negosiasi antara kedua negara.