Trump: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 3 Minggu

Presiden AS, Donald Trump/Foto : Dok. AFP Presiden AS, Donald Trump/Foto : Dok. AFP

Washington, GPriority.co.id – Perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden AS Donald Trump, mengumumkan kesepakatan baru berdurasi tiga minggu.

Keputusan ini diambil usai pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih yang melibatkan pejabat kedua negara, menandai langkah penting dalam upaya meredakan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan terbarunya dikutip dari laporan Reuters, Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai momen penting. Ia mengatakan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil diplomasi intensif yang bertujuan menjaga stabilitas regional sekaligus membuka peluang menuju perdamaian jangka panjang. Perpanjangan ini melanjutkan gencatan senjata awal selama 10 hari yang dimulai pada pertengahan April 2026.

Trump menegaskan bahwa kedua pihak sepakat untuk menahan diri dari operasi militer ofensif selama periode tambahan tersebut. Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen dalam waktu dekat.

Dalam laporan The Times of India, Trump menyebut pertemuan itu sebagai “pertemuan yang sangat bersejarah,” yang menegaskan pentingnya jalur diplomasi.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan di Gedung Putih yang turut dihadiri pejabat tinggi Amerika Serikat serta perwakilan Israel dan Lebanon pada Kamis (23/4) waktu setempat. Langkah ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan langsung AS dalam meredakan konflik yang melibatkan Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon.

Namun demikian, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Meski gencatan senjata diberlakukan, bentrokan sporadis dan serangan militer masih terjadi di wilayah selatan Lebanon.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sejumlah orang, termasuk seorang jurnalis, yang memicu kecaman internasional.

Konflik ini sendiri merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas di kawasan, termasuk ketegangan antara Israel dan Iran. Hezbollah, yang didukung Iran, tetap menjadi aktor utama dalam konflik ini meskipun tidak terlibat langsung dalam perundingan.

Kelompok tersebut bahkan menolak negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel serta menegaskan haknya untuk melawan apa yang mereka anggap sebagai pendudukan.

Sejak konflik meningkat pada awal 2026, dampaknya sangat besar bagi Lebanon. Lebih dari satu juta warga dilaporkan mengungsi, sementara ribuan lainnya menjadi korban jiwa akibat serangan udara dan pertempuran darat.

Pemerintah Lebanon sendiri mendorong agar perpanjangan gencatan senjata ini menjadi langkah awal menuju negosiasi yang lebih luas. Beberapa tuntutan utama yang diajukan antara lain penghentian serangan Israel, penarikan pasukan dari wilayah Lebanon, serta pembahasan batas wilayah secara permanen.

Di sisi lain, Israel menegaskan bahwa ancaman dari Hezbollah masih menjadi alasan utama operasi militernya. Pemerintah Israel menyatakan bahwa setiap tindakan militer dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri terhadap serangan roket dan ancaman keamanan lainnya.