Kurangi Ketergantungan ke Selat Hormuz, UEA Percepat Pembangunan Pipa Minyak

CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, saat menyampaikan percepatan pembangunan pipa minyak UEA a dalam acara Atlantic Council beberapa waktu lalu/Foto : Dok. AFP CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, saat menyampaikan percepatan pembangunan pipa minyak UEA a dalam acara Atlantic Council beberapa waktu lalu/Foto : Dok. AFP

UEA, GPriority.co.id – Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat pembangunan pipa minyak baru yang dirancang untuk melewati Selat Hormuz. Proyek strategis tersebut kini telah mencapai 50 persen penyelesaian dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Informasi ini disampaikan langsung oleh CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan Reuters yang dikutip pada Kamis (21/5), pipa baru itu menjadi bagian dari proyek West-East Pipeline yang bertujuan menggandakan kapasitas ekspor minyak UEA melalui pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.

Jalur tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi global karena mampu menghindari jalur Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik rawan konflik dan gangguan distribusi minyak dunia.

Dalam pernyataannya, Sultan Al Jaber mengatakan pembangunan proyek berlangsung lebih cepat dari target awal.

“Saat ini proyek sudah hampir 50 persen selesai dan kami mempercepat pengerjaannya menuju 2027,” ujarnya dalam acara Atlantic Council yang disiarkan secara langsung.

Ia juga menegaskan bahwa dunia terlalu bergantung pada jalur energi sempit seperti Selat Hormuz. Menurutnya, keputusan UEA membangun infrastruktur alternatif sudah dipikirkan sejak lebih dari satu dekade lalu sebagai langkah antisipasi terhadap risiko geopolitik global.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa bulan terakhir membuat distribusi energi terganggu dan mendorong lonjakan harga minyak internasional.

UEA sebenarnya sudah memiliki Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) yang mampu mengangkut sekitar 1,8 juta barel minyak per hari menuju Fujairah tanpa melalui Selat Hormuz. Namun proyek baru ini akan memperbesar kapasitas ekspor sekaligus memperkuat keamanan energi negara tersebut.

Al Jaber juga memperingatkan bahwa pemulihan arus perdagangan minyak global tidak akan berlangsung cepat meski konflik mereda.

“Jika konflik berakhir besok, arus minyak sebelum perang kemungkinan baru kembali normal pada 2027,” katanya.

Langkah agresif UEA mempercepat pembangunan pipa ini dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga posisi negara tersebut sebagai salah satu eksportir minyak utama dunia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jalur laut yang rentan konflik.