3 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Seberapa Berat Latihan Dasar Militer bagi Orang Awam?

Ilustrasi peserta latihan dasar militer/Foto : Dok. Istimewa Ilustrasi peserta latihan dasar militer/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Kasus meninggalnya tiga peserta Program Calon Manajer Kopdes (Koperasi Desa) dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) menjadi sorotan publik.

Berdasarkan informasi yang disampaikan panitia dan pihak terkait, ketiga peserta diduga meninggal akibat heat stroke (sengatan panas ekstrem) dan cardiac arrest (henti jantung) ketika menjalani rangkaian latihan fisik.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai seberapa berat latihan dasar militer, terutama jika diikuti oleh masyarakat sipil yang sebelumnya tidak terbiasa berolahraga atau memiliki kondisi kesehatan yang belum terdeteksi.

Secara umum, latihan dasar militer dirancang untuk membangun disiplin, daya tahan fisik, mental, serta kemampuan bekerja dalam tekanan.

Peserta biasanya menjalani aktivitas dengan intensitas tinggi, mulai dari lari jarak jauh, push-up, sit-up, squat, jalan cepat atau jalan jauh sambil membawa perlengkapan, latihan ketangkasan, hingga kegiatan lapangan yang berlangsung berjam-jam di bawah terik matahari.

Bagi prajurit yang telah melalui proses seleksi kesehatan dan pembinaan fisik secara bertahap, latihan tersebut merupakan bagian dari pendidikan. Namun, bagi masyarakat umum yang jarang berolahraga, tubuh belum tentu siap menerima beban latihan secara mendadak.

Dilansir dari laman Cleveland Clinic, peningkatan aktivitas fisik secara drastis dapat menyebabkan tubuh mengalami stres berat. Ketika suhu tubuh meningkat lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk mendinginkannya, seseorang berisiko mengalami heat exhaustion yang dapat berkembang menjadi heat stroke, kondisi darurat medis dengan suhu tubuh di atas 40 derajat Celsius.

Gejala heat stroke meliputi tubuh terasa sangat panas, kulit memerah, denyut nadi cepat, sakit kepala hebat, pusing, mual, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak, gagal organ, bahkan kematian.

Selain sengatan panas, latihan fisik berat juga dapat memicu henti jantung mendadak pada individu yang memiliki penyakit jantung bawaan atau gangguan irama jantung yang belum terdiagnosis.

Aktivitas fisik ekstrem meningkatkan kebutuhan oksigen pada otot dan jantung. Jika sistem kardiovaskular tidak mampu mengimbanginya, risiko serangan jantung atau cardiac arrest dapat meningkat.

Risiko tersebut semakin besar apabila peserta mengalami dehidrasi, kurang tidur, kelelahan, memiliki obesitas, hipertensi, diabetes, atau tidak pernah berolahraga secara rutin sebelumnya.

Faktor cuaca panas dan kelembapan tinggi juga memperberat kerja tubuh dalam menjaga suhu tetap normal.

Karena itu, berbagai organisasi kesehatan olahraga menekankan pentingnya skrining kesehatan sebelum mengikuti latihan fisik intensitas tinggi. Pemeriksaan tekanan darah, rekam jantung (EKG) bila diperlukan, riwayat penyakit, serta penilaian kebugaran menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko fatal.

Para ahli juga menyarankan latihan dilakukan secara bertahap, disertai waktu istirahat yang cukup, hidrasi optimal, pemantauan kondisi peserta, serta penghentian latihan apabila muncul tanda-tanda kelelahan berat atau gangguan kesehatan.

Dengan penerapan prosedur keselamatan yang baik, manfaat latihan fisik tetap dapat diperoleh tanpa mengabaikan keselamatan peserta, khususnya bagi masyarakat sipil yang belum memiliki kesiapan fisik layaknya personel militer.