Jakarta, GPriority.co.id – Pria di seluruh dunia diketahui memiliki harapan hidup yang lebih pendek dibandingkan wanita.
Laporan NY Post menyebut, di Amerika Serikat rata-rata pria hidup hingga sekitar 76 tahun, sedangkan wanita mencapai sekitar 81 tahun. Meski faktor biologis turut berperan, para ahli menilai kebiasaan pria yang enggan memeriksakan kesehatan justru menjadi penyebab terbesar di balik kesenjangan tersebut.
Dokter spesialis urologi bersertifikat sekaligus pendiri UroLongevity dan Modern Urologist, Dr. David Shusterman, menjelaskan bahwa penyebabnya bukan hanya soal perbedaan biologis.
“Ini adalah kombinasi antara biologi dan perilaku. Pria memang memiliki kerentanan biologis, tetapi masalah yang lebih besar adalah pria cenderung menjalani pengobatan yang bersifat reaktif. Mereka menunggu sampai ada sesuatu yang benar-benar salah,” ujar Shusterman.
Menurutnya, pria memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang muncul lebih dini, penumpukan lemak visceral di perut, penurunan metabolisme, serta perubahan hormon, termasuk berkurangnya kadar testosteron secara bertahap sejak usia sekitar 35 tahun. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang “wajar karena usia.”
Shusterman mengaku paling sering menemui pasien yang menganggap berbagai gejala sebagai bagian normal dari proses penuaan.
“Mereka berkata, ‘Saya hanya bertambah tua.’ Penuaan memang nyata, tetapi banyak perubahan ini dapat diukur dan diobati,” katanya.
Ia menambahkan bahwa disfungsi ereksi dapat menjadi tanda awal gangguan pembuluh darah, gangguan buang air kecil bisa mengindikasikan pembesaran prostat atau masalah kandung kemih, sedangkan kelelahan dapat berkaitan dengan sleep apnea, penyakit metabolik, rendahnya testosteron, atau risiko penyakit jantung.
“Mengabaikan gejala bukanlah tanda ketangguhan, melainkan penundaan diagnosis. Filosofi saya adalah penuaan harus diukur, dipahami, dan ditangani sejak dini. Pria tertinggal ketika mereka mengabaikan sinyal-sinyal awal,” tegasnya.
Survei Cleveland Clinic juga menunjukkan fenomena serupa. Sebanyak 72% pria mengaku lebih memilih mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membersihkan kamar mandi, daripada pergi ke dokter.
Bahkan, 41% responden mengatakan mereka dibesarkan dengan keyakinan bahwa pria tidak boleh mengeluhkan masalah kesehatan. Akibatnya, pria lebih dari 30% lebih jarang menjalani pemeriksaan kesehatan preventif dibandingkan wanita.
Selain itu, hubungan sosial juga memengaruhi usia harapan hidup. Menurut laporan Harvard Medical School yang dikutip New York Post, pria yang memiliki pasangan cenderung lebih cepat menyadari perubahan kondisi kesehatannya karena didorong untuk memeriksakan diri. Meski demikian, Shusterman menegaskan bahwa pria lajang tetap dapat hidup sehat jika memiliki rutinitas pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Pria lajang bisa hidup sangat baik jika mereka membangun struktur dalam menjaga kesehatannya. Kuncinya bukan sekadar status pernikahan, tetapi akuntabilitas, pemeriksaan rutin, dan tidak menunggu sampai terjadi krisis,” pungkasnya.
