Suka Nonton Film Kriminal dan Misteri? Ini yang Sebenarnya Terjadi di Otak Anda

Dexter menjadi salah satu serial terfavorit yang mengisahkan pembunuh berantai dengan aksi kriminal dan misteri/Foto : Dok. Showtime Dexter menjadi salah satu serial terfavorit yang mengisahkan pembunuh berantai dengan aksi kriminal dan misteri/Foto : Dok. Showtime

Jakarta, GPriority.co.id – Minat masyarakat terhadap tayangan film dan dokumenter kriminal, hingga drama tentang pembunuh berantai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Serial-serial bertema kejahatan bahkan kerap menduduki daftar tontonan terpopuler di berbagai platform streaming. Diantaranya seperti “Dexter“, “CSI: Miami”, hingga “Mindhunter”. Namun, mengapa banyak orang begitu tertarik pada kisah-kisah kelam tersebut?

Dilansir dari laporan terbaru WIO News, para psikolog menilai ketertarikan itu bukan berarti seseorang memiliki kecenderungan menjadi pelaku kriminal.

Ketertarikan terhadap film kriminal dan misteri lebih berkaitan dengan cara otak manusia memahami ancaman, mencari jawaban atas misteri, serta mempelajari cara melindungi diri dari situasi berbahaya.

Emily Mendez, seorang pakar psikologi dan perilaku kriminal menjelaskan bahwa manusia secara alami memiliki rasa ingin tahu terhadap perilaku ekstrem.

Kisah pembunuh berantai atau kejahatan yang rumit memicu otak untuk mencoba memahami motif pelaku sekaligus mencari pola agar peristiwa serupa dapat dihindari.

“Film kriminal menarik karena berhubungan dengan naluri alami kita untuk bertahan hidup. Tayangan ini membantu meredakan ketakutan bahwa hal serupa akan terjadi pada diri kita. Memahami apa yang dilakukan atau tidak dilakukan para korban membuat kita merasa lebih memiliki kendali. Kita percaya bahwa menonton tayangan seperti ini akan membantu kita mengetahui bagaimana harus bertindak jika suatu saat menghadapi situasi serupa,” ujar Emily.

Selain itu, banyak penonton menikmati sensasi memecahkan teka-teki. Mereka berusaha menebak pelaku, menganalisis bukti, hingga mengikuti proses investigasi layaknya seorang detektif.

Aktivitas tersebut memberikan kepuasan intelektual sekaligus memicu pelepasan dopamin di otak ketika misteri berhasil terpecahkan.

Meski demikian, psikolog dari Cleveland Clinic, Chivonna Childs, PhD, mengingatkan bahwa konsumsi konten kriminal secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

“Hal itu dapat meningkatkan kecemasan karena kita menjadi terlalu waspada. Kita selalu mencari orang jahat. Setiap mobil van berwarna putih terasa seperti kendaraan milik seorang pembunuh,” tekannya dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Ia menambahkan bahwa paparan terus-menerus terhadap kisah pembunuhan dapat membuat seseorang memandang dunia sebagai tempat yang jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya. Akibatnya, seseorang bisa menjadi sulit tidur, berulang kali memeriksa kunci rumah, hingga merasa takut keluar rumah.

“Perhatikan ketika Anda sudah terlalu banyak mengonsumsi konten tersebut. Jika Anda menjadi terlalu waspada, kecemasan meningkat, takut meninggalkan rumah, dan lebih banyak memikirkan film kriminal daripada hal lain, itu tandanya Anda perlu beristirahat,” lanjut Childs.

Karena itu, para psikolog menyarankan agar penonton menikmati tayangan film kriminal dan misteri secara seimbang. Mengombinasikannya dengan genre hiburan lain serta membatasi waktu menonton dinilai dapat membantu menjaga kesehatan mental tanpa menghilangkan rasa penasaran yang memang merupakan bagian alami dari psikologi manusia.