Benarkah Sikat Gigi Pakai Tangan Kiri Bisa Cegah Demensia?

Ilustrasi menyikat gigi dengan tangan kiri/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi menyikat gigi dengan tangan kiri/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi menggunakan tangan yang tidak dominan, misalnya tangan kiri bagi orang yang bertangan kanan, disebut-sebut dapat membantu menjaga kesehatan otak.

Meski terdengar sepele, para ahli mengatakan cara ini mampu merangsang otak bekerja lebih keras sehingga berpotensi meningkatkan fungsi kognitif dan membantu menurunkan risiko demensia.

Laporan New York Post mengungkapkan bahwa sekitar satu dari 10 orang dewasa berusia 45 tahun ke atas mengalami penurunan daya ingat atau fungsi kognitif. Karena itu, berbagai cara sederhana untuk melatih otak kini semakin banyak mendapat perhatian.

Peneliti utama yang didanai National Institutes of Health (NIH), Neal K. Shah, menjelaskan bahwa menyikat gigi dengan tangan yang tidak dominan memaksa otak keluar dari pola otomatis yang selama ini terbentuk.

“Bagi kebanyakan orang dewasa, menyikat gigi adalah aktivitas yang berlangsung secara otomatis. Setelah bertahun-tahun melakukannya, otak telah memetakan rutinitas tersebut sehingga otot mengetahui apa yang harus dilakukan tanpa banyak berpikir,” jelas Shah.

Namun, ketika seseorang mengganti tangan yang digunakan, otak harus menyusun strategi baru.

“Saat Anda berganti tangan, otak harus memberi perhatian lebih besar dan menciptakan strategi baru. Tantangan tambahan ini mengaktifkan area otak yang berperan dalam perencanaan, koordinasi, dan fokus,” ujarnya.

Menurut Shah, proses tersebut membantu meningkatkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk koneksi baru antar sel saraf. Layaknya otot yang menjadi lebih kuat karena latihan baru, otak juga merespons pengalaman yang berbeda dengan memperkuat jaringan saraf.

Ia juga menjelaskan bahwa gerakan cross-lateral, yakni menggunakan sisi tubuh yang berlawanan dari kebiasaan, mampu mengaktifkan jaringan otak yang berkaitan dengan perhatian, memori, dan koordinasi.

“Gerakan silang seperti ini dapat melibatkan jaringan otak yang lebih luas yang berhubungan dengan perhatian, ingatan, dan koordinasi,” kata Shah.

Selain menyikat gigi dengan tangan yang berbeda, para ahli menekankan pentingnya membangun cadangan kognitif (cognitive reserve), yaitu kemampuan otak tetap berfungsi meski mengalami proses penuaan atau perubahan akibat penyakit seperti Alzheimer dan demensia.

Shah mengatakan cadangan kognitif tidak harus dibangun melalui terapi mahal.

“Mempelajari keterampilan baru, tetap aktif bersosialisasi, berolahraga, dan menantang otak dengan cara-cara baru semuanya dapat membantu membangun cadangan kognitif,” jelasnya.

Artikel tersebut juga menyoroti penelitian lain yang menemukan bahwa orang yang menguasai lebih dari satu bahasa cenderung mengalami gejala demensia lebih lambat.

Sementara itu, studi di Jepang menunjukkan bahwa memasak sendiri di rumah terutama bagi mereka yang masih belajar,dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga sekitar 30–70% karena aktivitas tersebut memberikan tantangan baru bagi otak.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa menyikat gigi dengan tangan kiri bukanlah cara yang terbukti dapat mencegah demensia secara langsung.

Kebiasaan ini sebaiknya dipandang sebagai salah satu bentuk latihan sederhana untuk menjaga otak tetap aktif, yang hasilnya akan lebih optimal bila disertai gaya hidup sehat, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan stimulasi mental secara rutin.