Masa Kecil Taufik Hidayat Diungkap Sang Ayah, Apa Bahayanya Jika Anak Terlalu Dimanjakan?

Taufik Hidayat, pelaku kekerasan dan penyekapan di Bandung, Jawa Barat/Foto : Dok. X Taufik Hidayat, pelaku kekerasan dan penyekapan di Bandung, Jawa Barat/Foto : Dok. X

Jakarta, GPriority.co.id – Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Bandung yang diduga dilakukan Taufik Hidayat, tidak hanya menyita perhatian karena kekerasannya, tetapi juga memunculkan sorotan terhadap pola asuh yang dialami pelaku sejak kecil.

Berdasarkan keterangan ayah pelaku, Taufik telah menunjukkan perilaku agresif sejak kecil dan kerap dimanjakan oleh keluarga.

Dalam perbincangan bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ayah Taufik, Tata, mengaku pernah menjadi korban kekerasan anaknya sendiri. Ia menceritakan bahwa Taufik pernah memukul kepalanya menggunakan kayu hanya karena tidak ada lauk ikan di rumah.

“Pernah dipukul kepala pakai kayu,” kata Tata dikutip dari laporan tirto.id.

Ia melanjutkan, saat itu dirinya sedang bekerja di sawah ketika Taufik datang menghampiri.

“Lagi di rumah lagi nganggur dia, mau makan enggak ada ikannya. Dia datang ke sawah langsung mukul. Untung saya ada teman macul dua orang ditolong. Mau dipukul lagi, dihalangi,” ungkapnya lebih lanjut.

Setelah kejadian tersebut, Taufik sempat meninggalkan rumah selama sekitar satu minggu sebelum akhirnya pulang dan meminta maaf sambil menangis. Tata juga mengakui bahwa Taufik merupakan anak yang paling disayanginya.

“Karena Taufik ganteng gitulah, beda dari lainnya,” ungkap Tata saat ditanya apakah pelaku merupakan anak kesayangannya.

Pengakuan tersebut memunculkan kembali pembahasan mengenai dampak pola asuh permisif atau terlalu memanjakan anak.

Menurut Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), pola asuh yang minim batasan dapat membuat anak kesulitan mengendalikan emosi, kurang mampu menerima penolakan, serta merasa keinginannya harus selalu dipenuhi.

Jika perilaku agresif tidak dikoreksi sejak dini, risiko munculnya kekerasan saat dewasa dapat meningkat, meski tidak semua anak yang dimanjakan akan berkembang menjadi pelaku kekerasan.

Para psikolog menekankan bahwa perilaku agresif pada anak perlu segera ditangani apabila muncul berulang, seperti sering memukul teman atau anggota keluarga, menyakiti hewan, meledak-ledak ketika keinginannya ditolak, tidak menunjukkan rasa bersalah setelah menyakiti orang lain, atau terus mengintimidasi orang di sekitarnya. Orang tua dianjurkan tidak menganggap perilaku tersebut sebagai kenakalan biasa.

Untuk mencegah berkembangnya perilaku agresif, orang tua disarankan menerapkan pola asuh yang hangat tetapi tegas (authoritative parenting).

Anak perlu diajarkan mengenali emosi, menerima konsekuensi atas tindakannya, belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, serta mendapatkan evaluasi dari psikolog apabila perilaku agresif terus berulang atau semakin berat.

Kasus Taufik Hidayat menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter dimulai sejak masa kanak-kanak. Kasih sayang tetap penting, tetapi harus disertai batasan, disiplin yang konsisten, dan penanganan dini terhadap perilaku agresif agar tidak berkembang menjadi tindakan kekerasan di kemudian hari.

Selain pola asuh, para ahli juga menekankan bahwa perilaku kekerasan dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk lingkungan, pengalaman hidup, kondisi psikologis, dan penyalahgunaan zat, sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berasal dari satu penyebab.