Pengacara Ini Bongkar 4 Tipe Wanita yang Sulit Dipoligami, Simak Polanya

Ilustrasi pasangan yang telah menikah/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi pasangan yang telah menikah/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Seorang pengacara kembali membahas fenomena poligami melalui postingan di akun Instagramnya, @pengacara.abinas.

Menariknya, ia membagikan pandangannya berdasarkan pengalaman menangani perkara perceraian selama hampir dua dekade. Dalam unggahan tersebut, sang pengacara menilai terdapat pola yang cukup konsisten mengenai karakter perempuan yang cenderung sulit menerima praktik poligami.

Pernyataan tersebut bukan merupakan hasil penelitian ilmiah, melainkan berdasarkan pengalaman profesionalnya mendampingi perkara keluarga sejak 2006. Ia juga menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki nilai, keyakinan, dan keputusan yang berbeda dalam menyikapi poligami.

“Selama menangani perkara perceraian sejak tahun 2006, saya melihat ada pola yang cukup sering muncul. Semakin mandiri seorang wanita, semakin kecil kemungkinan bisa dipoligami,” tulisnya.

Menurutnya, terdapat empat tipe perempuan yang paling sering memilih mempertahankan prinsip ketika menghadapi persoalan poligami.

Tipe pertama adalah wanita yang memiliki karier yang baik. Ia menilai perempuan dengan pekerjaan dan karier yang mapan umumnya tidak bergantung secara finansial kepada suami sehingga memiliki keleluasaan dalam menentukan pilihan hidup.

“Karena ia merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak bergantung secara ekonomi kepada suami,” jelasnya.

Tipe kedua adalah wanita berpendidikan tinggi. Berdasarkan pengalamannya, ia mengaku hampir tidak pernah menemukan istri bergelar magister maupun profesor yang memilih bertahan dalam rumah tangga poligami.

“Bisa dikatakan selama saya menjadi pengacara sejak 2006, tidak pernah saya menemukan seorang istri bergelar Master atau Profesor yang dipoligami. Biasanya mereka memiliki prinsip, ekspektasi, dan pandangan yang kuat mengenai pernikahan,” ungkapnya.

Kategori ketiga ialah wanita yang memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat perempuan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan ketika merasa hak-haknya tidak dihormati.

“Mereka umumnya lebih percaya diri dalam mengambil keputusan ketika merasa hak-haknya tidak dihargai,” katanya.

Sementara tipe keempat adalah wanita yang memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi. Kelompok ini dinilai lebih memilih menjaga martabat dibanding mempertahankan hubungan yang bertentangan dengan prinsip hidupnya.

“Mereka cenderung lebih memilih mempertahankan martabatnya daripada bertahan dalam hubungan yang tidak sesuai dengan prinsip hidupnya,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pandangan tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh perempuan.

“Tentu ini bukan berarti semua wanita seperti itu pasti menolak poligami. Setiap orang memiliki keyakinan, nilai, dan keputusan masing-masing. Namun, berdasarkan pengalaman saya menangani perkara keluarga, keempat tipe ini memang lebih sering memilih mempertahankan prinsipnya ketika menghadapi persoalan poligami,” tulisnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah kajian psikologi keluarga yang menyebut kemandirian ekonomi, tingkat pendidikan, serta self-esteem berpengaruh terhadap keberanian seseorang mengambil keputusan dalam hubungan.

Namun, para ahli juga menekankan bahwa keputusan menerima atau menolak poligami tetap dipengaruhi banyak faktor lain, mulai dari nilai agama, budaya, kondisi keluarga, hingga kesepakatan masing-masing pasangan.