Nyeri Haid Berlebihan Picu Endometriosis, Kenali Tanda Bahayanya

Ilustrasi wanita nyeri haid/Foto : Dok. Unsplash Ilustrasi wanita nyeri haid/Foto : Dok. Unsplash

Jakarta, GPriority.co.id – Nyeri haid kerap dianggap sebagai bagian normal dari siklus menstruasi. Namun, para ahli mengingatkan bahwa rasa sakit yang sangat hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari bisa menjadi tanda endometriosis.

Endometriosis sendiri merupakan gangguan kronis yang menyerang sekitar satu dari 10 perempuan usia reproduktif di dunia. Kesadaran terhadap gejala penyakit ini dinilai penting karena banyak kasus baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun menderita.

Laporan terbaru WION News mengulas bahwa banyak perempuan mengabaikan nyeri haid berkepanjangan karena menganggapnya sebagai hal biasa. Padahal, endometriosis terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luar rahim sehingga memicu peradangan, jaringan parut, nyeri kronis, hingga gangguan kesuburan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dr. Rishma Dhillon Pai, menjelaskan bahwa nyeri haid normal umumnya masih dapat dikendalikan dengan obat pereda nyeri dan tidak menghambat aktivitas sehari-hari.

“Jika nyeri haid sangat berat hingga membuat Anda tidak bisa bekerja, bersekolah, atau menjalani aktivitas normal, kondisi tersebut tidak boleh dianggap normal dan perlu dievaluasi untuk kemungkinan endometriosis,” jelas Dr. Pai.

Selain nyeri haid yang berlebihan, para ahli menyebut sejumlah tanda peringatan lain yang patut diwaspadai. Gejala tersebut meliputi nyeri panggul kronis, nyeri saat atau setelah berhubungan seksual, nyeri ketika buang air kecil atau buang air besar terutama saat menstruasi, perdarahan menstruasi berlebihan, hingga sulit hamil. Beberapa penderita juga mengalami kelelahan, kembung, mual, diare, atau sembelit yang berulang selama masa menstruasi.

Menurut Dr. Pai, banyak perempuan baru mengetahui dirinya mengidap endometriosis ketika menjalani pemeriksaan kesuburan. Karena itu, diagnosis dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih parah.

“Semakin cepat endometriosis dikenali, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala, menjaga kualitas hidup, dan melindungi kesuburan pasien,” ujarnya.

Senada dengan itu, Mayo Clinic menjelaskan bahwa tingkat keparahan nyeri tidak selalu mencerminkan luasnya penyebaran endometriosis. Seseorang dapat mengalami nyeri hebat meski jaringan endometriosis yang tumbuh relatif sedikit, sementara penderita lain dengan penyebaran lebih luas justru merasakan gejala ringan. Oleh karena itu, evaluasi medis tetap diperlukan jika keluhan berlangsung terus-menerus.

Penanganan endometriosis bergantung pada tingkat keparahan gejala dan rencana kehamilan pasien. Terapi dapat berupa obat pereda nyeri, terapi hormonal untuk menghambat pertumbuhan jaringan endometriosis, hingga tindakan operasi pada kasus tertentu.

Para ahli menekankan bahwa perempuan tidak perlu menormalisasi rasa sakit berlebihan saat menstruasi. Jika nyeri mengganggu aktivitas, semakin berat dari waktu ke waktu, atau disertai gangguan kesuburan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis kandungan agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.