Sering Capek dan Hilang Semangat? Waspadai Burnout!

Ilustrasi burnout atau kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari akibat stres yang dirasakan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Ilustrasi burnout atau kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari akibat stres yang dirasakan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Rasa lelah berkepanjangan, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, hingga enggan memulai aktivitas sering dianggap sebagai tanda burnout.

Namun, tidak semua keluhan tersebut disebabkan tekanan pekerjaan. Kondisi medis tertentu juga dapat menimbulkan gejala yang mirip, sehingga penting mengetahui kapan burnout perlu ditangani sendiri dan kapan harus diperiksakan ke dokter.

Laporan New York Post pada 9 Agustus 2026 menyoroti persoalan tersebut. Burnout semakin sering digunakan untuk menggambarkan kelelahan fisik maupun emosional akibat tekanan kehidupan atau pekerjaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan burnout sebagai sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout sendiri bukan diagnosis medis.

Dr. Theodore Strange, ketua bidang kedokteran di Staten Island University Hospital, memperingatkan bahwa istilah burnout kerap digunakan terlalu luas.

“Salah satu masalah terbesar adalah orang menggunakan kata ‘burnout’ untuk menggambarkan banyak pengalaman yang berbeda. Karena itu, penting untuk tidak berhenti pada label tersebut, tetapi menentukan apa yang sebenarnya menyebabkan gejala tersebut,” ujar Strange.

Menurut Strange, kelelahan dapat berkaitan dengan depresi, tekanan situasional, maupun kondisi fisik seperti kekurangan zat besi, kekurangan vitamin B12, penyakit tiroid, diabetes atau gangguan hormonal lainnya. Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak dapat disamakan.

Kekurangan vitamin B12, misalnya, dapat menyebabkan kelelahan, terutama pada orang lanjut usia yang mengalami gangguan penyerapan, orang yang pernah menjalani operasi lambung, atau mereka yang menjalani pola makan vegan ketat tanpa asupan B12 yang memadai. Kekurangan zat besi juga dapat menimbulkan kelelahan dan kekurangan energi.

Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa burnout bukan diagnosis medis. Gejalanya dapat berupa kelelahan fisik atau emosional, kehilangan energi, sulit berkonsentrasi, perubahan pola tidur, hingga munculnya keluhan fisik seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan. Gejala tersebut juga dapat berkaitan dengan kondisi lain, termasuk depresi.

Lantas, kapan harus ke dokter? Jika rasa lelah tidak membaik setelah beristirahat, mengurangi stres, memperbaiki pola makan dan mencukupi cairan selama dua minggu atau lebih, Mayo Clinic menyarankan membuat janji dengan tenaga kesehatan.

Strange juga menyarankan aktivitas fisik sebagai bagian dari upaya mengatasi tanda burnout.

“Jika seseorang benar-benar mengalami burnout, aktivitas fisik secara teratur—bahkan sesuatu yang sederhana seperti berjalan kaki selama 25 hingga 30 menit sehari—dapat membantu merangsang hormon alami tubuh, termasuk serotonin dan dopamin, yang dapat meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan secara keseluruhan,” katanya.

Dengan demikian, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa kelelahan adalah burnout. Jika gejala menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab yang sebenarnya.