Yogyakarta, GPriority.co.id – Rambut gondrong biasanya identik dengan pelanggaran tata tertib sekolah. Namun, aturan berbeda diterapkan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Sekolah khusus laki-laki ini justru memberikan ruang bagi siswanya untuk berambut gondrong, menggunakan pakaian bebas berkerah, bahkan mengenakan sandal dalam ketentuan tertentu.
Menariknya, kebebasan tersebut tidak membuat prestasi akademik De Britto merosot. Sekolah yang dikenal dengan sebutan JB (Johannes De Britto) itu pernah masuk Top 100 sekolah nasional berdasarkan nilai UTBK 2022, dengan peringkat ke-51 nasional dan skor 594,617. Data tersebut merupakan pemeringkatan Top 1.000 Sekolah LTMPT yang menjadi rujukan sebelum pemeringkatan berbasis UTBK dihentikan.
SMA Kolese De Britto berada di Jalan Laksda Adisucipto No. 161, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sekolah ini berakar dari SMA Kanisius yang berdiri pada 19 Agustus 1948 dan kemudian berkembang sebagai sekolah khusus laki-laki di bawah pengelolaan pendidikan Jesuit. Kegiatan belajar mengajar di lokasi Demangan Baru dimulai pada 1958.
Dalam panduan sekolah, De Britto menempatkan pendidikan sebagai proses membentuk pemimpin pengabdi yang Pancasilais, dengan pendidikan yang utuh dan berlandaskan pedagogi Ignatian.
Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa sekolah menerapkan konsep “bebas yang bertanggung jawab”. Kebebasan bukan berarti siswa dapat melakukan apa saja, melainkan diberi ruang mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensinya.
“Aturan itu dibuat bukan untuk membatasi, tapi untuk mengajak anak-anak itu berpikir. Karena bagi kami gini, semakin banyak aturan menandakan di situ sama semakin banyak pelanggaran,” ujarnya dikutip dari laporan Kompas.
Danang juga menegaskan, “Mau rambut gondrong bebas, tapi rambut yang alami loh, tidak boleh diwarnai. Berarti kalau ada diwarnai ya konsekuensinya potong.”
Keunggulan sekolah ini tidak hanya terletak pada akademik. Pendidikan Jesuit di De Britto berupaya menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan pembentukan karakter.
“Maka kalau bisa dikatakan, kita di pendidikan Jesuit atau pendidikan Kolese De Britto itu pendidikan yang utuh. Menyeimbangkan antara olah pikir, olah rasa dan kehendak.” ujar Danang.
Profil siswa De Britto dikenal dengan konsep 1L+5C, yakni leadership, competence, conscience, compassion, consistent, dan commitment. Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik sekolah karena siswa tidak hanya diarahkan mengejar nilai, tetapi juga membangun kepemimpinan, hati nurani, kepedulian, konsistensi, dan komitmen.
Selain kebebasan berpenampilan, De Britto memiliki ruang kelas unik yang dikenal sebagai “kandang kuda” karena tidak memiliki pintu dan jendela seperti ruang kelas pada umumnya. Tradisi sekolah, pendidikan karakter, serta budaya berpikir kritis menjadi daya tarik tersendiri bagi calon siswa.
Dengan demikian, SMA Kolese De Britto Yogyakarta menunjukkan bahwa aturan penampilan yang lebih fleksibel tidak otomatis bertentangan dengan prestasi. Kebebasan justru ditempatkan sebagai sarana melatih siswa agar mampu berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka.
