Malaysia dan Brunei Sepakat Bawa Persoalan Asap Karhutla Kalimantan ke ASEAN

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah sepakat bawa persoalan asap Karhutla Kalimantan ke ASEAN/Foto : Dok. The Edge Malaysia Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah sepakat bawa persoalan asap Karhutla Kalimantan ke ASEAN/Foto : Dok. The Edge Malaysia

Kuala Lumpur, GPriority.co.id – Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan kabut asap lintas batas (transboundary haze) yang kembali berdampak pada sejumlah wilayah di kawasan.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Pertemuan Konsultasi Tahunan Pemimpin ke-27 atau 27th Annual Leaders’ Consultation (ALC-27) di Brunei Darussalam, Sabtu (22/8).

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim mengatakan isu kabut asap lintas batas dibahas bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah dalam pertemuan tersebut. Kedua pemimpin sepakat bahwa mekanisme ASEAN merupakan jalur yang tepat untuk menangani persoalan yang kembali muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan.

“Kami berdua sepakat bahwa mekanisme ASEAN merupakan opsi terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani persoalan ini,” ujar Anwar dalam konferensi pers penutupan kunjungan kerja dua harinya di Brunei Darussalam, seperti dikutip dari laporan The Star.

Langkah diplomatik tersebut sebelumnya telah disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada Jumat (21/8). Pemerintah Malaysia akan menggunakan jalur ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan kabut asap lintas batas yang berdampak terhadap sejumlah wilayah Malaysia dan negara di kawasan.

Melalui Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES), Malaysia juga akan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat. Surat tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama negara-negara ASEAN untuk memperkuat koordinasi dan mencari penyelesaian terhadap persoalan asap lintas batas.

Persoalan ini kembali menjadi perhatian setelah sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dilanda karhutla. Asap dari kebakaran kemudian menyebar hingga kawasan Kalimantan dan mencapai wilayah yang berbatasan dengan Malaysia serta Brunei Darussalam.

Dampak kabut asap terlihat dari memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia. Berdasarkan data Air Pollution Index Management System (APIMS), indeks pencemaran udara (API) di Serian, Sarawak, mencapai 190 pada Sabtu (22/8) pukul 09.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Sebanyak 10 wilayah lainnya juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yakni Kuching dengan API 182, Samarahan 177, Sarikei dan Sri Aman masing-masing 173, Sibu 161, Bintulu 157, Samalaju dan Mukah masing-masing 156, serta Miri dan Bukit Rambai di Melaka yang sama-sama berada di angka 151.

Dalam klasifikasi API Malaysia, angka 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 tergolong berbahaya.

Kesepakatan Malaysia dan Brunei membawa persoalan ini ke tingkat ASEAN menunjukkan bahwa karhutla dan kabut asap lintas batas tidak hanya menjadi persoalan domestik, tetapi membutuhkan koordinasi regional. Mekanisme ASEAN diharapkan dapat membuka ruang pertukaran informasi, koordinasi penanganan, serta solusi bersama agar dampak kabut asap tidak terus meluas.