Singapura, GPriority.co.id – Singapura kembali mempertahankan posisinya sebagai kota termahal di dunia untuk menjalani gaya hidup mewah.
Capaian ini diraih Singapura dalam empat tahun berturut-turu, dimana negara pulau sekaligus negara kota tersebut menduduki peringkat pertama dalam Julius Baer Global Wealth and Lifestyle Report 2026, sebuah laporan tahunan yang mengukur biaya barang dan layanan premium yang biasa dikonsumsi oleh individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals/HNWI).
Laporan tersebut menunjukkan bahwa Singapura masih menjadi destinasi paling mahal bagi kalangan ultra-kaya untuk menikmati berbagai kebutuhan premium, mulai dari properti kelas atas, pendidikan internasasional, layanan kesehatan, kendaraan mewah, hingga perhiasan dan jam tangan eksklusif.
Tingginya biaya kepemilikan kendaraan melalui skema Certificate of Entitlement (COE) serta harga properti premium menjadi faktor utama yang mendorong Singapura berada di puncak daftar.
Pada edisi 2026, Zurich berhasil naik ke posisi kedua, menggeser London ke peringkat ketiga. Monaco kembali masuk tiga besar setelah sebelumnya berada di luar posisi tersebut. Sementara itu, Hong Kong melengkapi lima besar bersama London.
Meski biaya hidup mewah terus meningkat, Singapura tetap menjadi magnet bagi para miliarder dan investor global. Infrastruktur modern, stabilitas politik, keamanan tinggi, sistem kesehatan berkualitas, serta kepastian hukum membuat negara tersebut tetap menjadi lokasi favorit untuk tinggal maupun mengelola aset.
Dalam laporannya, Julius Baer menjelaskan bahwa para keluarga kaya kini semakin memperhatikan lokasi penyimpanan aset dan struktur kekayaan mereka.
“Seiring kekayaan menjadi semakin global dan kompleks, keluarga-keluarga ultra-kaya semakin menaruh perhatian besar pada bagaimana dan di mana aset serta struktur kekayaan mereka ditempatkan, khususnya terkait pajak, perencanaan warisan, dan tata kelola,” tulis laporan tersebut.
Laporan itu juga mencatat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat kaya dunia. Dibandingkan hanya membeli barang-barang mewah, banyak individu berpenghasilan tinggi kini lebih memilih membelanjakan uang mereka untuk pengalaman eksklusif, seperti perjalanan pribadi, layanan kesehatan premium, hingga pengalaman kuliner kelas dunia. Tren tersebut terlihat paling kuat di kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah.
Indeks Julius Baer sendiri tidak mengukur biaya hidup masyarakat umum, melainkan menghitung harga sekitar 20 kategori barang dan jasa premium yang mencerminkan konsep living well. Beberapa di antaranya meliputi properti mewah, sekolah internasional, penerbangan kelas bisnis, hotel bintang lima, jam tangan mewah, layanan kesehatan eksklusif, hingga kendaraan premium. Karena itu, peringkat ini berbeda dengan indeks biaya hidup yang biasa digunakan untuk mengukur kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Keberhasilan Singapura mempertahankan posisi teratas selama empat tahun berturut-turut semakin menegaskan statusnya sebagai pusat keuangan global sekaligus destinasi utama bagi individu berpenghasilan tinggi, meski harus dibayar dengan biaya hidup mewah yang terus meningkat.
