Jakarta, GPriority.co.id – One Meal a Day (OMAD) dan intermittent fasting (IF) semakin populer sebagai metode mengatur pola makan dan menurunkan berat badan. Keduanya sama-sama membatasi waktu makan, tetapi OMAD sebenarnya merupakan salah satu pola yang jauh lebih ketat dibandingkan bentuk intermittent fasting yang umum, seperti metode 16:8.
Pada OMAD, seseorang mengonsumsi seluruh kebutuhan makan hariannya dalam satu kali makan, kemudian berpuasa sekitar 23 jam. Sementara itu, intermittent fasting memiliki banyak variasi. Salah satu yang paling populer adalah 16:8, yakni berpuasa selama 16 jam dan memiliki jendela makan selama 8 jam. Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa intermittent fasting berfokus terutama pada kapan seseorang makan, bukan sekadar jenis makanan yang dikonsumsi.
Perbedaan durasi tersebut membuat OMAD tidak otomatis lebih baik. Justru, semakin panjang periode puasa, semakin besar tantangan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam satu kali makan.
Ahli saraf Johns Hopkins, Mark Mattson, yang telah meneliti intermittent fasting selama puluhan tahun, menjelaskan bahwa setelah tubuh menghabiskan cadangan gula, metabolisme dapat beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Namun, Mattson juga mengingatkan bahwa periode puasa yang terlalu panjang tidak selalu memberikan manfaat lebih besar dan bahkan dapat berisiko bagi sebagian orang.
Lantas, mana yang lebih baik, OMAD atau intermittent fasting?
Untuk kebanyakan orang yang ingin menurunkan berat badan secara realistis dan berkelanjutan, pola intermittent fasting dengan jendela makan yang lebih longgar seperti 14:10 atau 16:8 cenderung lebih mudah diterapkan dibandingkan OMAD. Penelitian terbaru Johns Hopkins pada orang dengan obesitas dan pradiabetes juga menemukan bahwa time-restricted eating dengan jendela makan 8–10 jam dapat menghasilkan penurunan berat badan yang modest.
Namun, penelitian tidak menunjukkan bahwa intermittent fasting secara konsisten jauh lebih unggul daripada pembatasan kalori biasa. Tinjauan Cochrane 2026 menemukan intermittent fasting kemungkinan hanya memberikan sedikit atau tidak ada perbedaan dalam penurunan berat badan dibandingkan anjuran diet konvensional.
Harvard Health juga menekankan bahwa komposisi makanan, total kalori, serta kualitas karbohidrat dan lemak tetap sangat menentukan kesehatan, bukan semata-mata jumlah waktu makan.
Dengan demikian, OMAD bukan otomatis pilihan terbaik. Pola makan yang mampu dijalankan secara konsisten, mencukupi protein, serat, vitamin, mineral, dan kebutuhan energi lebih penting daripada mengejar durasi puasa terpanjang. Orang dengan kondisi medis tertentu, termasuk diabetes, serta ibu hamil dan menyusui sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba intermittent fasting.
