Kenapa Pasangan Gen Z Rentan Bercerai? Ternyata Ini 5 Tantangannya

Ilustrasi perceraian/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi perceraian/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena perceraian di kalangan pasangan muda menjadi perhatian dalam pembahasan ketahanan keluarga.

Generasi Z atau Gen Z kerap dianggap lebih rentan menghadapi persoalan rumah tangga karena memiliki ekspektasi tinggi terhadap hubungan, tantangan komunikasi, hingga tekanan ekonomi dan gaya hidup.

Namun, kerentanan tersebut bukan berarti Gen Z tidak mampu mencintai atau membangun keluarga yang harmonis. Pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta, yakni komitmen, kedewasaan emosional, serta kemampuan menyelesaikan konflik bersama pasangan.

Melalui unggahan Instagram @bp4pusat, Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) menyoroti sejumlah tantangan yang perlu dipahami pasangan muda dalam mempertahankan rumah tangga.

“Bukan karena gen z tidak bisa mencintai. tetapi karena cinta saja tidak cukup untuk membuat rumah tangga bertahan. ada beberapa tantangan baru yang perlu dipahami,” tulis BP4 Pusat dalam unggahannya.

1. Ekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Pasangan

Pernikahan sering kali dibayangkan selalu romantis dan dipenuhi kebahagiaan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan mudah muncul. Padahal, kehidupan rumah tangga juga diwarnai perbedaan pendapat dan situasi yang tidak selalu menyenangkan.

2. Mudah Berkomunikasi, tetapi Sulit Menyelesaikan Konflik

Kemudahan komunikasi melalui pesan singkat dan media sosial belum tentu membuat pasangan mampu menyelesaikan masalah. Rumah tangga membutuhkan kemampuan mendengarkan, memahami perasaan pasangan, serta berbicara dari hati ke hati.

3. Menganggap Perpisahan sebagai Jalan Keluar

Budaya serba cepat dapat memengaruhi cara seseorang memandang hubungan. Ketika merasa tidak cocok, perpisahan terkadang dianggap sebagai solusi paling mudah. Padahal, pernikahan membutuhkan proses panjang untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri.

4. Tekanan Ekonomi dan Gaya Hidup

Tuntutan pekerjaan, kebutuhan hidup, serta gaya hidup yang ditampilkan di media sosial dapat memicu konflik. Kebiasaan membandingkan kondisi rumah tangga dengan kehidupan pasangan lain juga berpotensi menimbulkan ketidakpuasan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia sepanjang 2024. Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi faktor terbesar dengan 251.125 kasus, disusul masalah ekonomi sebanyak 100.198 kasus.

5. Belum Matang Menghadapi Konflik

Menikah bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi juga belajar menjadi pasangan yang tepat. Kesabaran, kemauan mengalah, keberanian meminta maaf, dan kemampuan memaafkan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan.

BP4 Pusat mengingatkan bahwa, “Bahagia dalam rumah tangga lahir dari kesabaran dan kemauan bertahan, bukan dari menyamai standar orang lain.”

Selain itu, “Komitmen diuji justru saat situasi sedang tidak nyaman.”

Pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi dan menyelesaikan persoalan bersama. Sebab, belajar bertahan ketika cinta sedang tidak terasa indah juga merupakan bagian dari perjalanan pernikahan.