Jakarta, Gpriority.co.id – Indonesia memiliki beragam jenis dan corak batik. Salah satunya batik ciprat hasil karya penyandang disabilitas binaan Kementerian Sosial (Kemensos).
Hari batik nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober mengajak masyarakat Indonesia untuk menggunakan batik di berbagai kesempatan. Pada momen ini tak ada salahnya untuk memakai batik ciprat. Dilansir laman Kemensos, batik ciprat memiliki motif unik dan berbeda satu sama lain.
Motif batik ciprat umumnya bintik-bintik. Batik ini dibuat dari kain katun primisima berukuran 1,15 x 2,25 meter. Seperti batik pada umumnya, proses pembuatan batik juga menggunakan remasol, mewarnai dengan waterglass, kemudian direbus, dan dijemur.
Batik ciprat diciptakan oleh bapak Sucipto, seorang kepala sekolah Sekolah Luar Biasa. Proses pembuatan batik ini ternyata menarik bagi para penyandang disabilitas intelektual. Pembuatan batik ciprat sangatlah mudah dan menyenangkan yakni hanya dengan mengoles malam, lalu menciprati kain dengan warna warna acak.
Sebelumnya para penyandang disabilitas intelektual sangatlah kesulitan menggunakan canting. Akhirnya, mereka mencipratkan dan meneteskan larutan malam ke kain dengan acak. Proses menciprati itulah yang membuatnya dinamakan batik ciprat.
Selain diproduksi untuk busana, produk turunan batik ciprat lainnya juga terdiri dari sarung, songkok, mukena hingga sajadah. Dengan produk turunan ini membuat pemasaran batik ciprat baik online atau offline semakin mudah. Selama ini Kemensos banyak menggunakan batik ciprat karya penyandang disabilitas intelektual untuk seragam pegawai hingga souvenir.
Selain di Pulau Jawa, batik ciprat kini telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Kalimantan, Papua, Aceh, dan daerah lainnya. Bahkan, rombongan turis dari Eropa dan Asia yang berkunjung, kerap memborong batik Ciprat. Dengan semakin diminatinya batik ciprat maka kesempatan untuk memperoleh penghasilan bagi penyandang disabilitas intelektual terbuka lebar. Pasalnya semua pendapatan dari penjualan batik ciprat akan turut dibagikan kepada para penyandang disabilitas intelektual yang membuatnya.
Batik, seni tradisional Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia, terus berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Demikian halnya dengan batik ciprat yang identik sebagai karya penyandang disabilitas intelektual.
