Mendikti Saintek Bocorkan 4 Kelemahan Lulusan S1 di Indonesia, Apa Saja?

Mendikti Saintek Bocorkan 4 Kelemahan Lulusan S1 di Indonesia, Apa Saja? Mendikti Saintek Bocorkan 4 Kelemahan Lulusan S1 di Indonesia, Apa Saja?

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah video viral memperlihatkan Mendikti Saintek, Satryo Soemantri Brodjonegoro, yang membocorkan 4 kelemahan lulusan S1 di Indonesia.

4 kelemahan yang diungkap Satryo merupakan hasil survey pada 500 CEO perusahaan menengah kecil di 4 pulau, yang meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, pada 2015 lalu.

Adapun 4 kelemahan lulusan S1 di Indonesia yang dimaksud, diantaranya :

1. Tidak memahami bacaan

Lulusan S1 di Indonesia dinilai banyak yang belum bisa memahami, menganalisis, menafsir, dan mengidentifikasi substansi dari setiap paragraf yang dibacanya.

2. Kemampuan menulis masih rendah

Bukan sekadar mencatat, menulis yang sebenarnya yaitu mengeksplorasi kata-kata hingga membuat seseorang bisa mengembangkan dan mengasah ide yang tergambar dalam pikirannya.

Sayangnya, masih banyak ditemukan lulusan S1 di Indonesia yang kesulitan menuangkan pikirannya dalam kalimat atau bahkan sekadar kata.

3. Etos kerja yang buruk

Etos kerja mencerminkan sikap dan kebiasaan seseorang dalam dunia kerja. Sayangnya, masih banyak ditemukan lulusan S1 di Indonesia yang kurang profesional dalam lingkungan kerjanya.

Seperti kurang disiplin dan motivasi, menunda pekerjaan yang harus diselesaikan, hingga kebiasaan buruk lainnya.

4. Kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi

Menurut para CEO, masih banyak ditemukan lulusan S1 di Indonesia yang belum bisa membangun komunikasi secara efektif.

Padahal, kemampuan komunikasi sangatlah diperlukan dan berperan penting dalam segala aspek kehidupan. Utamanya dalam dunia kerja.

Perusahaan Indonesia Sulit Dapat Lulusan yang Siap Kerja

Sebagai informasi, Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim pernah mengungkapkan jika 8 dari 10 perusahaan di Indonesia mengaku sulit mendapatkan lulusan yang siap kerja.

“Banyak yang belum punya pengalaman, yang relevan ke industri, pengalaman bekerja, hingga pengalaman mengerjakan Project Based Learning,” ujar Nadiem.

Kendati demikian, menurut seorang pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan, data yang diungkap oleh Mendikti Saintek Satryo harus dilihat secara keseluruhan penyebabnya.

Prof Cecep mengatakan, perlu ada riset yang mendalam untuk menggambarkan kondisi lulusan S1 yang sebenarnya.

Sehingga nantinya pemerintah juga memiliki bahan evaluasi untuk kemudian dapat memperbaiki kualitas lulusan S1 di Indonesia.

Foto : Ilustrasi/Freepik