Harga Emas Antam Tembus Rp 2,16 Juta Per Gram

Harga Emas Antam Tembus Rp 2,16 Juta Per Gram Harga Emas Antam Tembus Rp 2,16 Juta Per Gram

Jakarta, GPriority.co.id – Harga emas Antam (PT Aneka Tambang) baru saja mencapai rekor tertinggi pada Selasa (22/4) kemarin. Menurut situs Logam Mulia, emas batangan kini dijual pada harga Rp 2.016.000 per gram, naik Rp 36.000 dibanding lusa.

Jika melihat ukuran yang lebih kecil, setengah gram harganya sekitar Rp 1.058.000. Batangan seberat 10 gram harganya sekitar Rp 19,6 juta, dan jika melihat ukuran yang lebih besar, batangan seberat 1 kilogram harganya hampir Rp 2 miliar (setara dengan Rp 1.956.600.000).

Selama sepekan terakhir, harga emas bergerak kisaran Rp 1.896.000 hingga Rp 2.016.000 per gram. Dalam sebulan terakhir, kisarannya berada kisaran Rp 1.754.000 hingga Rp 2.016.000.

Sementara jika Anda berniat menjual kembali emas Anda ke Antam, harga beli kembali hari ini adalah Rp 1.865.000 per gram, yang juga naik Rp 36.000 dari kemarin.

Mengapa Harga Emas Naik Drastis?

Setidaknya terdapat 5 faktor utama mengapa harga emas naik drastis diantaranya :

1. Ketidakpastian Ekonomi atau Geopolitik

Saat terjadi krisis seperti perang, inflasi tinggi, atau ketidakstabilan politik, investor cenderung membeli emas sebagai “safe haven” karena dianggap lebih aman dibandingkan aset lain.

2. Inflasi dan Nilai Tukar Dolar AS

Emas sering dianggap pelindung terhadap inflasi. Jika inflasi tinggi atau nilai dolar AS melemah, harga emas cenderung naik karena daya beli mata uang menurun.

3. Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral

Ketika suku bunga rendah, orang lebih memilih emas dibandingkan menyimpan uang bank yang bunganya kecil. Sebaliknya, jika suku bunga tinggi, orang cenderung pindah ke aset yang memberikan imbal hasil.

4. Permintaan dan Penawaran

Permintaan emas dari sektor industri, perhiasan, atau bank sentral juga memengaruhi harga. Jika pasokan terbatas dan permintaan meningkat, harga akan naik.

5. Spekulasi dan Sentimen Pasar

Pergerakan harga emas juga bisa dipengaruhi oleh spekulasi investor dan berita-berita global yang menciptakan ketakutan atau optimisme di pasar.

Editor: Novita Intan

Foto : Dok. ANTARA