Jakarta, GPriority.co.id – Setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial dan menyebut masyarakat yang ingin membubarkan DPR sebagai orang bodoh sedunia, muncul kabar pemecatan Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni.
Fraksi NasDem lalu menunjuk Rusdi Masse sebagai pengganti Ahmad Sahroni di Komisi III DPR RI. Sebagai informasi, Komisi III DPR RI membidangi hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Termasuk membawahi Polri, Kejaksaan Agung, KPK, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN).
Namun ternyata, Ahmad Sahroni tak dipecat dari jabatannya sebagai DPR, melainkan hanya dirotasi menjadi anggota Komisi I. Hal ini ditegaskan langsung oleh Sekretariat Jenderal (Sekjen) Partai NasDem, Hermawi Taslim.
Ia mengatakan, rotasi ini menjadi langkah yang rutin guna penyegaran dan bukan berarti pencopotan jabatan. Ia membantah jika langkah ini dilakukan karena berkaitan dengan ucapan kontroversial Sahroni sebelumnya yang memicu kemarahan publik.
Jika anda melewatkannya, Sahroni merespon desakan pembubaran DPR yang ramai diseruka di media sosial usai isu tunjangan anggota DPR yang bernilai fantastis.
Saat ia melakukan kunjungan kerja ke Polda Sumut (Sumatera Utara), ia menyebut jika orang yang menyerukan pembubaran DPR merupakan “orang tertolol sedunia”. Sontak, ucapan Sahroni tersebut memicu kemarahan publik karena dianggap tak pantas diucapkan saat kondisi sosial-ekonomi tengah sulit.
“Catat nih, orang yang cuma mental bilang ‘bubarin DPR’ itu adalah orang tolol sedunia,” sebutnya.
Sahroni menilai, kritik dan caci maki sah saja dilakukan. Namun seruan pembubaran DPR menurutnya sudah melewati batas dan merusak tatanan pemerintah.
“Komplain dan caci maki, nggak papa kita terima. Tapi ada adat istiadat yang harus disampaikan. Apakah dengan membubarkan DPR bisa meyakini masyarakat untuk menjalani pemerintahan sekarang? belum tentu,” jelasnya.
Ditambah lagi, Syahroni berargumen jika orang-orang yang paling vokal menyerukan pembubaran DPR ialah orang-orang yang belum pernah duduk di kursi parlemen.
“Maka dengan menyampaikan hal-hal seenaknya (seperti) bubarin DPR, jangan. Memang yang ngomong itu rata-rata orang yang nggak pernah duduk di DPR. Kita boleh dikritik. Tapi ingat, bahwa kita selaku wakil rakyat juga punya kerja dan empati. Silahkan mau mengkritik, boleh. Tapi jangan mencaci maki berlebihan,” ungkapnya.
