Tangerang, GPriority.co.id – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), mendorong pembiayaan inovatif dan kolaboratif guna mempercepat transisi energi hijau di kawasan ASEAN.
Selain itu, hal ini juga guna memperkuat ketahanan energi khususnya pada kawasan Sungai Mekong yang melewati 6 negara ASEAN, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI) Arif Havas Oegroseno.
Sebagai informasi, Sungai Mekong memiliki panjang kurang lebih 4.350 kilometer, bermula dari China serta mengalir melewati negara Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, juga Vietnam.
“Setiap kali ada diskusi tentang lingkungan, energi terbarukan, hingga perubahan iklim, pada dasarnya tidak akan berarti apa-apa jika tak disertai dengan pembahasan tentang keuangannya,” ujar Arif pada Kamis (16/10).
Disampaikannya melalui rekaman video saat memberi sambutan dalam agenda “2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region”, Arif menambahkan jika Indonesia butuh sekitar USD285 miliar atau sekitar Rp4.722 triliun untuk mitigasi serta perubahan iklim sampai tahun 2030 mendatang. Sementara itu, anggaran negara hanya dapat mencakup sekitar 18 persen dari total kebutuhan.
Saat ini, Indonesia telah menetapkan berbagai mekanisme pembiayaan guna memenuhi hal tersebut. Mulai dari menerbitkan oblogasi hijau, obligasi SDG, hingga obligasi terumbu karang.
Arif melanjutkan, Indonesia juga membutuhkan dana hingga USD1 triliun atau sekitar Rp16.576 triliun guna infrastruktur energi terbarukan hingga 2060. Namun akan tersebut masih jauh dari kebutuhan.
Dalam hal ini, Arif mengatakan, penguasaan teknologi energi terbarukan juga menjadi tantangan lainnya. Meski Indonesia mempunyai potensi besar dari sinar matahari serta bahan baku, namun masih terdapat tantangan yang berkaitan dengan manufaktur panel solar di tanah air.
“Hal ini perlu ditangani lewat pembahasan mengenai isu-isu yang langsung menyentuh. Mulai dari konstruksi juga pembuatan panel surya di ASEAN,” ungkap Arif.
Dalam kesempatan tersebut, Arif turut menyoroti pemanfaatan teknologi tenaga air di Sungai Mekong. Menurutnya, keseimbangan antara manfaat ekonomi serta tanggung jawab sosial juga kelestarian lingkungan menjadi aspek yang begitu penting saat berbicara mengenai energi terbarukan.
“Ini bukan hanya mengubah energi terbarukan menjadi terbarukan. Tetapi terbarukan yang dimaksud ialah guna keseimbangan dari ketiga hal tersebut,” tekannya.
