Penelitian: Media Sosial Bisa Merusak Ingatan dan Kosakata Anak-Anak

Ilustrasi anak-ana k yang bermain media sosial/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Ilustrasi anak-ana k yang bermain media sosial/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Amerika Serikat, GPriority.co.id – Penelitian terbaru menunjukkan fakta mengejutkan mengenai media sosial yang kini semakin banyak digunakan anak-anak.

Penelitian dari UC San Fransisco tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu bermain media sosial, mendapatkan nilai lebih rendah dalam tes membaca, kosakata, hingga memori. Penelitian tersebut juga menemukan, semakin lama mereka bermain media sosial, semakin menurun kinerja mereka.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggali data lebih dari 6.000 anak dari usia 9 hingga 11 tahun. Anak-anak tersebut dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan bagaimana kebiasaan mereka bermain media sosial dari waktu ke waktu.

Kelompok pertama hanya sedikit atau bahkan tidak menggunakan media sosial sama sekali. Kelompok kedua bermain media sosial dengan frekuensi rendah, hanya sekitar satu jam sehari. Sedangkan kelompok ketiga menghabiskan tiga jam lebih setiap hari untuk bermain media sosial.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan sekitar satu jam sehari di media sosial mendapat nilai satu atau dua poin lebih rendah dalam tes membaca dan memori, dibandingkan dengan mereka yang tidak bermain media sosial sama sekali. Bahkan, kelompok ketiga yang lebih banyak bermain media sosial mendapat nilai lima poin lebih rendah.

Peneliti menyebut media sosial dapat mengurangi konsentrasi mereka, hingga menyebabkan mereka begadang dan kurang tidur serta lesu pada keesokan harinya.

Bahkan efek bermain media sosial dinilai lebih buruk ketimbang menonton tv. Akibatnya, anak-anak tidak memiliki cukup kemampuan kognitif atau memori yang tersisa untuk di sekolah.

Di tahun 2023, Kepala Ahli Bedah AS mengeluarkan peringatan bahwa media sosial dapat membahayakan kesehatan mental anak-anak dan remaja. Laporan tersebut mengatakan, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi area otak yang terkait dengan emosi, juga dapat mengendalikan impuls serta perilaku sosial.

Selain itu, juga berpotensi meningkatkan risiko depresi serta kecemasan. Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini banyak sekolah di luar negeri yang meningkatkan upaya untuk membatasi teknologi di ruang kelas.