Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia dan Rusia sepakat melakukan kerja sama strategis pada sektor maritim, salah satunya dengan mengembangkan kapal cepat yang ramah lingkungan.
Sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA pada Senin (10/11), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut proyek kapal cepat tersebut mampu memperkuat konektivitas antar wilayah.
Negara Rusia dipilih karena menurutnya memiliki pengalaman panjang dalam industri perkapalan. Oleh sebab itu, AHY berharap kerja sama antara Indonesia dan Rusia tersebut dapat semakin memperkuat rantai pasok peralatan kapal dalam negeri serta mendukung efisiensi pemeliharaan kapal logistik nasional.
“Kami berharap dapat mengembangkan rantai pasok peralatan kapal yang tangguh untuk mendukung pemeliharaan kapal logistik nasional secara lebih efisien,” tutur AHY.
Bukan hanya kapal cepat, AHY juga akan mengembangkan berbagai teknologi maritim modern lainnya mulai dari hovercraft atau kapal amfibi yang bisa berada di permukaan air, darat, lumpur, serta es, hydrofoil, hingga kapal penangkap ikan.
Kendati demikian saat ini pemerintah belum mengumumkan besaran biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal cepat serta teknologi maritim modern lainnya.
Sementara itu, untuk teknologi hydrofoil sendiri merupakan hasil pengembangan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan institusi Rusia. Kapal cepat jenis ini diklaim mampu memotong waktu tempuh laut secara signifikan. Terlebih, apabila diproduksi di dalam negeri, mampu menekan biaya serta meningkatkan kapasitas industri lokal.
Dalam kesempatan yang sama, Indonesia dan Rusia turut menyepakati kerja sama lewat nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani kedua belah pihak, dan mencakup enam area strategis mulai dari kapasitas transportasi laut, transfer teknologi, transisi energi, infrastruktur pelabuhan ramah lingkungan, pendidikan maritim, hingga pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Lewat kolaborasi ini, diharapkan dapat mengubah paradigma terhadap Indonesia yang bukan hanya sekadar pengguna teknologi asing, melainkan mampu menjadi produsen serta pengembang teknologi perkapalan modern.
